GMNI Siapkan Kadernya Untuk KIB II

Prof. Sudigdo Adi (tengah) bersama dua peserta kongres (mashur/jurnalberita)

SURABAYA (jurnalberita.com) – Dalam gelanggang politik dan pemerintahan, para alumnus kader GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) tidak mau ketinggalan dengan pergerakan Kahmi (Kesatuan Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia) yang gagrak di era rejim Soeharto hingga SBY, yang masih diperhitungkan.

Peserta Kongres II Persatuan Alumni GMNI di mall Grand City – Surabaya, melontarkan aspirasi yang cukup spektakuler. Mereka berharap dalam isu perubahan Kabinet Indonesia Bersatu II yang dipimpin Presiden SBY dalam waktu dekat ini, ada beberapa kader PA GMNI disiapkan masuk sebagai menteri di kabinet yang akan reshuffle (pergantian) itu.

Ditandaskan oleh Prof. Dr. Sudigdoadi, SpKK di tengah kehadirannya sebagai alumni GMNI dari Bandung ini, bahwa keberadaan Soekarwo yang disinyalir akan ditarik ke dalam Kabinet Indonesia Bersatu, merupakan wujud kualitatif kadernya GMNI yang diperhitungkan banyak pihak.

“Namun saya pribadi berharap bukan sekadar satu orang, tapi 2-3 orang disiapkan masuk ke dalam kabinet IB oleh GMNI kita ini,” tegas Guru Besar FK- Universitas Pajajaran Bandung saat di Surabaya, tanpa memerinci menteri apa yang diincar GMNI.

Pernyataan Sudigdo ini merupakan pula suatu gambaran, GMNI yang menjadi wadah organisasi kaum mahasiswa dan kaum intelek itu, tidak hanya sibuk dan asyik dengan dirinya sendiri. Tetapi ikut memikirkan secara strategis masa depan NKRI, meski secara ideologi harus tetap mengedepankan rasa nasionalisme.

“Pokok pikiran dan landasan pola berfikir keluarga besar GMNI itu, tak hanya berskala kualitatif semata, namun pula kuantitatif dalam spektrum yang luas,” ungkap Sudigdoadi di depan para kader GMNI Surabaya.

Kualitatif dan Kuatitatif

Diuraikan, kader GMNI harus punya kultur yang kuat dalam berjuang menegakkan nilai-nilai Keindonesiaan yang Pancasilais. “Oleh sebab itu, proses kualitatif harus dibarengi dengan kuantitatifnya. Artinya, ada fakta sosial yang harus diperjuangan oleh GMNI dan PA GMNI bahwa persoalan sosial yang sangat besar ini membutuhkan tangan-tangan dan pikiran kualitatif para kader GMNI,” kata Sudigdo.

Pola ini untuk mempercepat pencapaian dan cita-cita para pendiri Republik Indonesia, masih kata Sudigdo, sebagaimana ungkapan Bung Karno yang ingin menggetarkan dunia dengan menyatakan, “Beri aku sepuluh pemuda maka akan kugoncangkan dunia,” lontar Sudigdo yang menyitir pernyataan Bung Karno di tahun 1960-an, untuk menunjukkan kekuatan pemuda tidaklah main-main. Hanya saja, kini para pemuda dituntut kesadarannya sendiri untuk bisa memajukan Indonesia yang realistis demi bangsanya.

Sudigdo yang pernah mengenyam studi di Universitas Airlangga dan bertempat tinggal di kawasan Pucang Anom Surabaya itu menyebutkan, bahwa PA GMNI harus tangkas mempersiapkan diri sebagai kader bangsa yang sebagaimana saudaranya di Kahmi.

“Kita wajib berkompetisi yang sehat, namun jangan ketinggalan dalam ikut berperan memajukan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini,” tutur Sudigdo yang mengaku dari keluarga Muslim dan berkultur Jawa.

“Adik-adik saya di berbagai perguruan tinggi harus aktif dan komunikatif dengan para seniornya. Agar kesinambungan benang merah yang berupa ideologi itu tidak musnah dan terlindas oleh jaman yang cenderung kuat mengarah ke liberalisme ini. Oleh sebab itu kita mesti songsong dengan bekerja keras dan berpikir besar demi kemajuan tatanan kehidupan negeri ini,” papar Sudigdo yang juga mantan anggota DPR-RI dari fraksi PDI-Perjuangan.

“Kami bukan ambisius di sana (kabinet), namun paling tidak, gagrak GMNI bisa diperhitungkan yang sekaligus mampu menunjukkan kemampuannya, selaku pejuang yang mengabdi dan pengabdi yang berjuang untuk bangsanya,” lanjut Sudigdo, dan meminta Soekarwo untuk tetap berkonsentrasi memajukan Jawa Timur. (jb5/jb1)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site