Irjen (Purn) Bibit S. Rianto – Kuli Tenun Yang Kini Jadi Pimpinan KPK

(jurnalberita.com) – Irjen (Purn) Dr. Bibit Samad Rianto, MM lahir pada 3 November 1945 di Kediri – Jawa Timur. Hidup di lingkungan keluarga yang sederhana, Bibit kecil lebih banyak menghabiskan waktu di pasar mendampingi ibunya yang menjadi tukang jahit. Lingkungan pasar membuat Bibit kecil sering berkelahi dan menjadi layaknya ‘preman’ pasar.

Perjalanan hidup Wakil Ketua KPK Bibit Samad Rianto ini cukup berliku. Berawal dari keluarga yang kurang mampu, Bibit akhirnya menjadi seorang jenderal di kepolisian hingga menjadi pimpinan KPK. Karena kondisi ekonomi, orang tua Bibit hanya mampu membiayai beliau sampai SMP saja. Sehingga untuk melanjutkan pendidikan SMA, Bibit mencari uang sendiri dengan menjadi kuli tenun. Seusai menyelesaikan pendidikan SMA di tanah kelahirannya, Bibit kemudian memilih untuk bergabung di Akademi Kepolisian (Akpol) dan lulus pada 1970. Alasan utama Bibit memilih Akpol karena bisa menjadi perwira dan penghasilan seorang perwira pada saat itu lumayan cukup. Selain alasan ekonomi tersebut, Bibit bercita-cita menjadi penegak hukum yang baik sesuai dengan fungsinya untuk masyarakat.

Setelah lulus dari Akpol, Bibit langsung mengabdikan dirinya selama 30 tahun di kepolisian. Berbagai posisi teritorial pernah diembannya, di antaranya Kapolres Jakarta Utara, Kapolres Jakarta Pusat, Wakapolda Jawa Timur, dan Kapolda Kalimantan Timur. Bibit pensiun dari kepolisian pada 15 Juli 2000 dengan pangkat terakhir Inspektur Jenderal. Atas jasa dan pengabdiannya selama bertugas, beliau mendapatkan berbagai bintang jasa dan penghargaan. Di antaranya: Satya Lencana Kesetiaan, Satya Lencana Dwidya Sista, Bintang Bhayangkara Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya dan Bintang Bhayangkara Pratama.

Bibit muda yang saat itu bertugas di Bagian Intel Polda Metro Jaya (sebelum akhirnya masuk Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada 1977), merupakan pelaku ‘monogami’ yang hanya memperistrikan Sugiharti, seorang perawat cantik asal Jawa Tengah. Sugiharti lahir di Purworejo, Jawa Tengah. Sebelum dinikahi Bibit, wanita kalem tersebut kuliah di Akademi Keperawatan Depkes, Jakarta. Setelah lulus pada 1970-an, dia bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta hingga pensiun.

Dari pernikahan Bibit dan Sugiharti mempunyai 4 buah hati yakni Yudi Prianto, Bayu, Endah Sintalaras, dan Rini Wulandari. Dan semua anaknya kini sudah berkeluarga. Dua di antaranya meniti karir yang sama dengan bapaknya yakni menjadi seorang penegak hukum.

Sebagai perwira pertama, saat itu Bibit memiliki banyak tanggungan. Di antaranya, dia harus membiayai banyak adiknya. Mulai adik kandung sampai adik-adik istrinya. Bibit muda adalah gantungan hidup keluarga. Karena kurangnya penghasilan, Bibit tak hilang akal. Beberapa kali dia minta izin kepada istrinya untuk jadi sopir angkot setiap lepas dinas. Namun, keinginan tersebut tak pernah kesampaian. Untuk menambah pendapatan, dia ikut membantu menjadi petugas keamanan di salah satu hotel kecil di kawasan Kemayoran.

Enam tahun menjelang pensiun di kepolisian, Bibit mempersiapkan dirinya alih profesi menjadi seorang guru. Keinginan beliau menjadi guru merupakan buah dari pesan almarhumah ibunya, agar Bibit menjadi guru. Bibit menamatkan studi hingga S3 dan mendapat gelar Doktor. Pesan ibunya tercapai, Bibit pernah mengajar di Universitas Bina Nusantara selama 4 tahun, jadi rektor Universitas Bhayangkara 3 tahun. Beliau juga pernah mengajar di UNJ (Universitas Negeri Jakarta) dan bekas kampusnya di PTIK.

Kapolda yang ‘Lulus Godaan’ Suap Puluhan Miliaran Rupiah

Meskipun merupakan alumni dari salah satu lembaga yang memiliki tingkat kepercayaan publik yang buruk seperti terkorup di Indonesia tahun 2008, Irjen Polisi (Purn) Bibit Samad Rianto mungkin sekelompok jenderal polisi yang masuk pengecualian publik seperti halnya Irjen Pol (Purn) Herman SS (Eks. Kapolda Jatim) dan Irjen Sutjiptadi (mantan Kapolda Riau). Sejak proses pemilihan pimpinan KPK 2007-2011, sosok dan integritas Bibit Samad Rianto bersama Chandra M Hamzah selalu terbaik, bahkan melewati Antasari Azhar. Hal itu diungkapkan oleh mantan anggota panitia seleksi pimpinan KPK tahun 2007 Mas Ahmad Santosa pada tanggal 16 September 2009 (Mas Achmad Santosa diangkat jadi Wakil Ketua Sementara (Plt) KPK pada 6 Oktober 2009).

“Chandra dan Bibit yang paling baik mewakili unsur-unsur mereka, tidak seperti Antasari yang kontroversial…”
Berdasarkan hasil penelusuran tim investigasi pansel saat itu, Bibit adalah perwakilan Kepolisian yang paling bersih. Pengalamannya sebagai anggota Kepolisian ditunjang dengan kemampuan ilmiah sebagai Rektor Universitas Bhayangkara.
“Dia (Bibit) lebih ke dunia ilmiah, ilmu soal investigasi tindak pidana, jadi lebih bersih,” ungkap Mas Achmad Santosa pada 16 September 2009 pada Detiknews.

Selama menjadi Kapolda Kalimantan Timur di penghujung tahun 1990-an, Bibit dikenal tegas terhadap kasus illegal logging. Selama itupula ia sering digoda suap menyuap oleh para cukong kayu. Kala itu ia pernah ditawari uang suap puluhan miliar. Tapi tegas-tegas Bibit menolak suap tersebut. Bibit ‘lulus dari godaan’ suap.

Bibit setidaknya berhasil menangani 234 kasus illegal logging. Bibit mengaku bahwa sebagian besar dari kasus yang ditangani berani menyuap rata-rata Rp 500 juta per kasus. Namun, semua suap ditolak mentah-mentah oleh Bibit, karena bertentangan dengan hukum dan hati nuraninya. Bayangkan, Andai saja ia mau menerima suap setengah kasus yang ia tangani, maka Bibit bisa meraup Rp 58.5 miliar dan menjadi jenderal polisi yang kaya. Namun Bibit lebih memilih hidup sederhana. Bekerja selama hampir 37 tahun (polisi selama 30 tahun + dosen selama 7 tahun), per 2007 seluruh harta kekayaan (rumah, tanah, kendaraan, tabungan) tidak lebih dari Rp 1,9 miliar (Rp 1,886 miliar). Angka total kekayaan ini tergolong kecil dibanding jenderal polisi lainnya, sehingga Bibit dapat disebut “jenderal kere”.

“Dulu ketika menjabat sebagai Kapolda Kalimatan Timur, saya pernah menangani 234 kasus illegal logging. Saya babat habis. Kemudian ada yang berani ngasih duit Rp 500 juta per kasus. Kalikan saja dengan 234 kan Rp 117 miliar,” tutur Bibit.

Apabila tawaran suap puluhan miliar ketika menjabat sebagai Kapolda Kaltim ia tolak, tentu hal yang janggal jika ia menerima suap Rp 1.5 miliar ketika menjadi Wakil Ketua KPK. Bibit justru bertanya untuk apa ia menerima suap Rp 1.5 miliar, padahal sebelumnya suap puluhan miliar ia tolak.

“Kesalahan” Masa Lalu Bibit

Ketika mengikuti seleksi pimpinan KPK, Bibit dinilai memiliki dua kelemahan yang membuat dirinya ‘payah’. Pertama, meski berasal dari kepolisian, selama karirnya di kepolisian Bibit tidak pernah menangani kasus korupsi. Saat menjabat Kapolda Kalimantan Timur, ia hanya menangani kasus pembalakan liar.

Tidak heran, ketika mendapat pertanyaan tentang strategi memberantas korupsi pada uji kelayakan di Komisi III DPR, Bibit malah memaparkan pengalamannya mendamaikan dua kampung yang berseteru saat menjabat Kapolres Jakarta Pusat dan cara menangani banjir. Kelemahannya yang tidak pernah menangani kasus korupsi terbayarkan dari usahanya yang keras dalam menangani kasus pembalakan liar di Kaltim di samping kesederhanaan hidupnya.

Kelemahan kedua yakni ketika menjadi polisi ia mengakui pernah menerima bantuan bahan bangunan dengan alasan bukan dari pihak yang berperkara, sehingga Bibit bisa membangun rumah hanya dengan modal Rp 26 juta. Namun Bibit mengaku sudah ‘bertaubat’ dan hanya menerima bantuan pada saat pembangunan rumah saja. Kejadian itu terjadi ketika ia menjadi Kapolres.

Tapi semenjak Beliau menjadi Kapolda, ia sudah tidak melakukan (menerima) hal itu lagi. Justru, sewaktu bertugas di Kaltim, ada pengusaha yang ingin memberi saham bodong, namun Bibit menolaknya. Begitu juga saat Gubernur Kaltim memberi mobil ke Bibit untuk Kapolda, ketika pensiun, ia tidak membawa mobil tersebut karena ia berprinsip bahwa mobil tersebut untuk Kapolda, bukan untuk Bibit.

Pensiunan Jenderal yang Hidup Sederhana

Meskipun pensiunan jenderal polisi berbintang dua dan kemudian menjadi dosen dan terakhir menjadi Wakil Ketua KPK, Bibit dan keluarganya hidup sederhana. Dengan pangkat setinggi itu, mestinya dia bisa tinggal di perumahan elite. Tapi, tidak demikian Bibit. Pecinta kesenian keroncong ini ter­nyata hidup sederhana di perumahan biasa. Kediaman Bibit terletak di kampung Pedu­renan, belakang Perumahan Griya Kencana I, Ciledug, Tangerang.

Dari jalan raya, kampung itu tidak memiliki pintu masuk sendiri. Untuk mencapainya, ha­rus ngikut pintu masuk perumahan, kemudian melewati jalan sempit yang hanya cukup dilalui satu mobil. Setelah itu, baru sampai di perkampungan pa­dat penduduk, tempat keluarga Bibit tinggal. Di depan rumah Bibit yang menghadap ke barat tersebut terdapat tanah kosong yang bia­sa dipakai warga untuk membakar sampah. Jadilah asap dan bau bakaran sampah familier dengan keluarga Bibit.

Di samping kanan rumahnya tersebut terdapat bekas kolam yang kini ditumbuhi rumput liar. Berimpitan de­ngan rumah itu, ada bangunan tak seberapa luas. Tempat tersebut dimanfaatkan untuk pe­nitipan gerobak PKL para tetangga yang ber­dagang makanan keliling.

Sebenarnya, rumah yang ditinggali Bibit se­jak 1992 tersebut cukup luas. Rumah itu ber­diri di atas lahan seluas 600 meter persegi. Ada halaman lumayan luas di depan rumah. Du­lu, halaman tersebut kerap dimanfaatkan para tetangga untuk berlatih musik keroncong. Tanah itu dibeli Bibit dari seorang anak buahnya seharga Rp 2 ribu per meter persegi pada 1989. Saat itu Bibit sudah menjadi perwira menengah.

Aktivitas Bibit makin banyak saat menjabat wakil ketua KPK. Sampai di rumah setelah beraktivitas seharian penuh, dia masih betah berlama-lama di depan komputer. Demikian halnya saat nonaktif, Dia masih menyempatkan menulis buku, yakni Anatomi Korupsi di Indonesia. (berbagai sumber/jb1)

BIODATA

Nama: Bibit Samad Riyanto
Tempat/ Tanggal Lahir: Kediri, Jawa Timur, pada 3 November 1945
Pendidikan Kepolisian: Akademi Kepolisian Lulus tahun 1970

Jabatan di Kepolisian:
* Kapolres Jakarta Utara
* Kapolres Jakarta Pusat
* Wakapolda Jawa Timur
* Kapolda Kalimantan Timur

Pensiun: 15 Juli 2000
Pangkat Terakhir: Inspektur Jenderal

Penghargaan:
* Satya Lencana Kesetiaan,
* Satya Lencana Dwidya Sista,
* Bintang Bhayangkara Nararya,
* Bintang Yudha Dharma Nararya,
* Bintang Bhayangkara Pratama.

Pendidikan Formal:
Phd Lulus 2002

Jabatan:
* Wakil Ketua KPK Bidang Penindakan
* Rektor Universitas Bhayangkara

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site