Tebar Jaring, 5 Nelayan Disambar Petir

Nelayan korban sambaran petir (foto : Ist)

PAMEKASAN (Jurnalberita.com) – Lima orang nelayan disambar petir di perairan Desa Bandaran Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Madura. Akibatnya, 3 orang tewas, sementara dua nelayan lainnya mengalami trauma. Kelima korban langsung dievakuasi ke Rumah Sakit Daerah Pamekasan Madura untuk mendapatkan perawatan medis.

Tiga nelayan tewas yakni Syamsuri (28), Muklis (20) dan Abdul Rahim (17). Ketiganya tewas dengan luka bakar di sekujur tubuhnya. Sementara Satuki (20) dan Encung Hariadi (23). Keduanya selamat meski terluka bakar di pungungnya dan kini mengalami trauma.

Menurut Fauzi, keluarga korban yang juga ikut melaut, sesaat akan menuju ke pinggir pantai, tiba-tiba saja petir menyambar kelima nelayan tersebut, Rabu (8/12/2010) pukul 20.00 WIB. “Korban semuanya ada lima, tiga tewas dan dua sedang di rawat,” kata Fausi.

Kepala UGD RSD Pamekasan, Bustami, mengatakan, ketiga orang nelayan yang tewas itu akibat dari sengatan partikel listrik dengan daya yang sangat besar. Sedangkan dua nelayan yang tewas, mengalami trauma hebat dengan indikasi demam tinggi. “Keduanya kami rawat di Zal D,” kata Bustami di Ruang UGD.

Terpisah, Kanit I pidana Umum Iptu Syaiful membenarkan jika ada warga yang terkena sambaran petir di perairan Tlanakan. Pihak keluarga korban tewas, keberatan untuk di lakukan visum. Karena menolak untuk di lakukan visum oleh pihak kepolisian, maka ketiga orang korban tewas langsung dipulangkan ke rumah duka di Desa Bandaran dan Desa Tanjung untuk di makamkan.

Keterangan yang berhasil dihimpun menyebut, sebelum tersambar petir, kelima orang nelayan tersebut bersama 25 orang nelayan lainnya berangkat melaut pukul 12.00 WIB, Rabu (8/12/2010). Setelah mengarungi laut sejauh 6 mil, dibawah gerimis para nelayan berjibaku menebar jaring slerek sepanjang 200 meter. Usai menebar jaring, para awak perahu “Anak Jaya” milik Sumiadi (45), langsung beristirahat. Ada yang di kamar mesin ada pula yang di dek penyimpanan ikan.

Sedangkan kelima orang yang tersambar petir itu beristirahat di atas palka perahu. Meski gerimis berubah menjadi hujan deras, namun kelima orang nelayan itu tetap saja beristirahat di atas palka perahu. Kelima orang nelayan itu sekaligus bertugas menjaga penerangan lampu penerangan bertenaga disel agar tak sampai padam. Laju perahu hanya berkisar 3 knots.

Namun malang tak dapat ditolak. Disaat kelimanya berada diatas palka perahu, tiba-tiba kilatan petir menyambar hingga tiga kali dengan suara yang amat keras. “Disela suara petir yang erakhir itulah, saya mendengar suara teriakan dari atas palka perahu. setelah saya naik keatas, saya melihat lima orang teman saya tergeletak,” ujar Fauzi.

Fauzi lalu berteriak ke Nursalim (34) sang nahkoda perahu dan memberitahukan jika 5 nelayan disambar petir. Mengetahui 5 kawannya tergeletak tersambar petir, sang nahkoda perahu langsung memerintahkan awak perahu untuk segera menaikkan jaring slerek yang telah ditebar ke dalam laut.

“Sekitar jam sembilan malam, kami tiba di rumah sakit. Beruntung dua orang teman berhasil selamat meski dalam kondisi trauma,” ujar Fauzi.

Saat evakuasi korban, Ruang UGD tampak seperti pasar tumpah. Puluhan orang keluarga nelayan asal Desa Kramat, Desa Bandaran dan Desa Tanjung, tumplek blek disekitar ranjang korban. Beruntung, kedua korban selamat segera dipindahkan ke Zal D untuk menjalani rawat inap. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site