Akibat Pupuk Kimia, Lahan Apel di Batu Rusak

BATU (jurnalberita.com) – Untuk menjaga kesuburan tanah, pada umumnya para petani menggunakan pupuk. Banyak jenis pupuk yang beredar di pasar mulai dari yang kimia hingga organik, dan mayoritas para petani menggunakan pupuk kimia.

Kini para petani perlu berhati-hati dalam menggunakan pupuk kimia, hasil ujicoba laboratorium yang dilakukan pihak swasta dan juga berbagai perguruan tinggi yang ada di Malang menunjukkan bahwa tanah yang menggunakan pupuk kimia menyatakan bahwa kondisi tanahnya mengalami kerusakan. Di kota Batu, akibat pupuk kimia, ditemukan banyak lahan tanaman apel yang sudah dinyatakan rusak.

Disampaikan Ketua Komisi B DPRD Kota Batu, Hari Purwanto kepada wartawan, Selasa (25/1/2011) di Kota Batu, bahwa hasil ujicoba menunjukkan di wilayah Kota Batu yang paling rusak tanahnya ada di Desa Punten dan Desa Sumbergondo, Kecamatan Bumiaji.

Penyebabnya, karena pola tanam petani apel di Kota Batu banyak yang menggunakan pupuk kimia. Karenanya, Hari meminta, agar pihak Pemkot Batu memprioritaskan program revitalisasi tanah pertanian yang sudah mengalami kerusakan itu.

Hari membeberkan, uji laboratorium itu sudah dilakukan berkali-kali oleh pihak swasta atau perguruan tinggi di Malang. Hasilnya menunjukkan di dua desa itu kondisi tanahnya paling rusak. “Hal itu sangat mempengaruhi kualitas apel yang ditanam dan akan  semakin menurun hasil panen,” terangnya.

Hari melanjutkan, penggunaan pupuk kimia yang terus menerus tanpa diimbangi dengan pupuk organik itu, akan merusak struktur tanah menjadi asam. Kalau kondisi tanah jadi asam maka akan menyebabkan banyak unsur hara dalam kondisi terikat dan tidak dapat dimobilisir ke tanaman. Akibatnya, produktivitas tanaman menjadi rendah.

Untuk meningkatkan produksi, biasanya petani harus menambah dosis pupuk kimia sehingga melebihi dosis yang dianjurkan. Akibatnya, tanah akan semakin rusak, disebabkan oleh pemakaian pupuk kimia yang berlebihan.

Oleh karena itu, dibutuhkan upaya revitalisasi tanah dengan banyak memberikan bahan organik. “Ini bertujuan untuk mengembalikan kondisi tanah seperti semula. Sehingga kualitas tanaman juga tetap terjaga,” kata politisi dari PKPB ini.

Dia juga menambahkan, untuk memberdayakan kembali sumber daya lokal yang dimiliki, misalnya petani bisa gunakan pemanfaatan pupuk kompos organik untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Disinggung soal dana yang dianggarkan untuk pertanian di Kota Batu, Hari mengaku, bahwa Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kota Batu pada 2011 ini sudah mengajukan anggaran senilai Rp 10 Miliar.

“Dari angka tersebut, 40 persen di antaranya untuk kebutuhan gaji pegawai. Sisanya untuk program Distanhut Kota Batu. Namun, saya tidak mengetahui persis apa saja program Distanhut pada tahun ini,” akunya.

Namun, dia meminta agar Distanhut memprioritaskan program revitalisasi tanah yang diketahui mengalami kerusakan itu. “Di Desa Punten dan Desa Sumbergondo, memiliki lahan pertanian apel paling luas dibanding desa lainnya. Kawasan inilah yang mendesak dilakukan revitalisasi tanah. Agar Kota Batu tetap dikenal menjadi kota Apel,” katanya serius. (*/jb1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site