Api Bekas Eksplorasi Maindu Muncul Lagi

Warga memanfaatkan api yang keluar dari bekas ekslporasi Pertamina di Desa Maindu untuk membakar jagung. Sebulan terakhir sumur tua itu menyemburkan api lantaran beton pelindungnya terkisis. (foto: bekti/jurnalberita)

TUBAN (jurnalberita.com) - Sumur bekas eksplorasi Pertamina di Desa Maindu, Kecamatan Montong kembali menyala sebulan terakhir. Menurut warga desa setempat, sejak Pertamina meninggalkan tempat itu 1981 lalu, api di sumur eksplorasi tersebut tidak pernah menyala. “Beton yang menutupi sumur terkikis sehingga muncul lubang-lubang yang mengeluarkan api,” kata Madun (47), warga setempat.

Lanjut Madun, Pertamina melakukan eksplorasi di tempat itu pada 1980 lalu. Namun setahun kemudian Pertamina hengkang tanpa diketahui sebabnya. Padahal perusahaan minyak itu sudah mengontrak 4 hektar tanah warga, dan telah membangun berbagai sarana penunjang keperluan eksploitasi. Madun menduga, cadangan minyak yang ada di desanya itu kemungkinan masih sedikit sehingga Pertamina urung melanjutkan eksploitasinya. “Setelah diteliti mungkin Pertamina akan rugi kalau melakukan eksploitasi di sini. Makanya terus pergi begitu saja,” tambahnya.

Syamsul Hadi (34), Kaur Pemerintahan Desa setempat membenarkan. Dia menambahkan, untuk mengamankan sumur bekas eksplorasi itu, Pertamina menutup area seluas 6 X 15 meter tersebut dengan beton setebal 5 Cm. Selama puluhan tahun sumur bekas eksplorasi itu tidak menunjukkan gejala apa-apa. Malah dimanfaatkan pemuda setempat sebagai lapangan volley ball. “Karena sekarang  muncul api, kalau mau volley ya harus menutup api ini dengan tanah dulu,” kata Syamsul.

Ketika ditutup tanah, lanjut Syamsul, api sementara padam. Namun beberapa menit kemudian muncul lagi jika tanah penutupnya menipis. “Kami harus menutup berkali-kali agar tidak mengganggu permainan volley. Kalau sudah selesai ya kita biarkan saja menyala,” tambahnya.

Warga sendiri, kata Syamsul, sejauh ini tidak merasa cemas dengan munculnya api abadi tersebut, kendati lubang-lubang yang mengeluarkan api semakin banyak. Justru warga malah memanfaatkannya untuk membakar jagung atau ayam. Malam hari, tambah Syamsul, tempat itu berubah menjadi tempat berkumpulnya warga. “Sambil menghangatkan badan, warga membakar jagung. Kadang-kadang juga ayam. Malah sering juga dipakai memasak air untuk bikin kopi,” kata Syamsul.

Kendati sejauh ini tidak membahayakan, Syamsul berharap pihak Pertamina segera melakukan tindakan pengamanan. Sebab tidak menutup kemungkinan semburan api akan semakin membesar jika beton yang menutupinya semakin aus. Selama ini, kata Syamsul, sering beberapa petugas Pertamina datang ke lokasi untuk memeriksa kondisi sumur bekas eksplorasi tersebut. Namun belum terlihat tanda-tanda pihak Pertamina hendak melanjutkan usaha eksploitasinya.

“Kami mengusulkan, kalau Pertamina batal melakukan eksploitasi, tempat ini tetap dibangun untuk wisata. Jadi meski eksploitasi batal, desa masih bisa mendapat mafaat ekonomis dari sumur tersebut,” harap Syamsul. (jb8/jb1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site