Hasil Panen Buruk, Harga Jagung dan Gabah Anjlok

Kualitas gabah yang buruk akibat tingginya curah hujan penyebab anjloknya harga gabah. (bekti/jurnalberita)

TUBAN (jurnalberita.com) - Entah sampai kapan petani bisa lepas dari keterpurukan. Cuaca tampaknya belum mau berpihak pada petani. Sejumlah petani yang ditemui jurnalberita.com di sejumlah desa di Kecamatan Merakurak dan Kecamatan Jenu, Minggu (23/1/2011),  mengeluhkan rendahnya harga hasil panen mereka. Pengakuan para petani tersebut, harga jagung saat ini hanya Rp 2100 per kg. Bahkan ada yang lebih rendah lagi. Padahal musim panen yang lalu harga masih lumayan bagus, Rp 2800 per Kg.

“Kualitas jagung sangat buruk kali ini karena cuaca tidak mendukung sehingga banyak pembeli yang menolak membeli hasil panen petani,” jelas Mochamad Dahlan, petani warga Desa Senori, Kecamatan Merakurak.

Harga akan lebih rendah lagi, lanjut Dahlan, jika tingkat kekeringannya kurang. Dengan curah hujan yang masih tinggi ini, petani tentu sangat sulit mengeringkan jagungnya. Karena itu Dahlan memprediksi harga akan terus menurun hingga bulan depan.

Hal yang sama juga terjadi pada gabah. Dasih, petani di Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu mengatakan, harga gabah kering saat ini anjlok ke angka Rp 2400 per Kg. Untuk gabah kering gilingpun, kata Dasih, harganya tidak terpaut jauh, hanya sebesar Rp 2900 per Kg. “Musim lalu harga gabah kering panen masih Rp 2700, dan kering giling Rp 3000,” kata Dasih.

Dasih juga menyebut kualitas gabah yang buruk akibat tingginya curah hujan sebagai penyebab anjloknya harga gabah saat ini. Pembeli pun banyak yang enggan menerima gabah lantaran terlalu banyaknya kadar air yang dikandung. Kalaupun menerima, harganya tak lebih dari Rp 2400 per Kg, bahkan bisa lebih rendah lagi.

Penderitaan petani semakin sempurna karena hasil panen mereka juga mengalami penurunan kuantitas. Zito Warsito, Kepala Desa (Kades) Sugihan, Kecamatan Merakurak mengatakan, petani di wilayahnya mengalami penurunan kuantitas hasil panen rata-rata 20 hingga 30 persen per hektar. Jika dalam keadaan normal petani di desa itu menghasilkan 6-7 ton per hektar, musim panen kali ini hanya mampu memperoleh hasil 1,2 – 3 ton per hektar. “Jagung dan gabah sama, ya sebesar itu hasilnya,” tambah Zito.

Nilai kerugian petani, kata Zito, bisa mencapai ratusan juta karena selain menurunnya kuantitas hasil panen dan harga, petani juga harus menanggung biaya tanam ulang. Banyak tanaman yang mati lantaran diterjang banjir atau kelebihan air akibat curah hujan tinggi. Seingat Zito, dalam sekali musim tanam tahun ini, sudah tiga kali petani di tempatnya melakukan tanam ulang. “Untuk sekali tanam saja butuh Rp 3 juta per hektar. Kalau tiga kali tanam berapa? Itu baru persiapan lahan dan benih. Belum pupuk dan perawatannya,” terang Zito.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (DPPK), Ir. H. Koesno Adiwijoto membenarkan adanya penurunan harga jagung dan gabah saat ini. Menurut catatan Koesno, harga gabah kering panen saat ini mencapai Rp 2500-2600 per Kg, sedang untuk kering giling Rp 3800 per Kg. Sementara untuk jagung tercatat Rp 2700 per Kg.

Menurut Koesno, harga tersebut masih wajar. Koesno mengaku belum mengetahui secara pasti berapa harga di tingkat petani. Namun ia sependapat penurunan harga tersebut disebabkan mutu hasil panen yang kurang baik. (jb8/jb1)

Tags: , ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. saya petani jagunating juga pemroses jagung pipil merasa preatin mengapa banyak bermunculan bibit jagung yang menjajikan hasil yg bagus dg harga yg mahal tetapi hasil penjualan jagung selalu turun terus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site