Kebijakan Impor Sapi Hancurkan Harga Pasar

\"\"

TUBAN (jurnalberita.com) - Nasib petani yang tidak kunjung membaik menyebabkan jatuhnya harga ternak sapi. Demikian tegas Kepala Dinas Perekonomian dan Pariwisata Kabupaten Tuban, Ir. Budi Wiyana, Selasa (18/1/2011). Menurutnya, banyak petani yang terpaksa menjual hewan ternaknya untuk menutup kerugian akibat menurunnya produksi pertanian.

Akibatnya, stok ternak sapi bertambah sementara pasar cenderung stagnan. “Jumlah pembeli sapi dari tahun ke tahun relatif stagnan, tidak meningkat juga tidak berkurang. Jika stok bertambah, logika pasar membenarkan terjadinya penurunan harga,” jelas Budi Wiyana.

Catatannya, rata-rata volume penjualan sapi di tiga pasar hewan yang ada di Tuban, yakni Pasar Hewan Tuban, Pasar Hewan Kerek dan Pasar Hewan Jatirogo, berkisar antara 800-900 ribu ekor per minggu. Sementara stok sapi mengalami peningkatan sebesar 10 persen setahun terakhir, lantaran banyaknya petani yang menjual ternak sapinya untuk menutup kerugian produksi.

Harga ternak sapi saat ini tercatat berkisar antara Rp 3 – 8 juta per ekor. Padahal sebelumnya mampu menembus angka Rp 12 juta per ekor.

Hal lain yang menjadi penyebab jatuhnya harga ternak, lanjut Budi Wiyana, adalah kebijakan impor sapi yang dilakukan Pemerintah. Tujuan impor sapi sebenarnya untuk mengatasi instabilitas pasar. Konsumsi daging per kapita memang masih tergolong rendah. Hanya 1,7 Kg per kapita per tahun. Namun, katanya, total kebutuhan daging cukup tinggi. “Masyarakat kita punya banyak hari besar yang menyebabkan tingkat kebutuhan daging sangat tinggi, terutama pada Hari Raya Qurban,” kata Budi Wiyana.

Namun prakteknya, kata Budi Wiyana, impor tersebut justru melemahkan pasar ternak sapi lokal lantaran kualitas sapi lokal yang rata-rata lebih rendah dibanding sapi impor. Budi menilai, kontrol Pemerintah harusnya diperketat sehingga impor sapi yang tujuannya untuk menstabilkan pasar, tidak malah merusak pasar sapi lokal.

“Kami juga sudah mengirim surat ke Pemerintah Pusat untuk mengurangi impor dan meminta sapi impor tidak masuk ke Tuban. Gubernur juga memberi dukungan,” terang Budi Wiyana.

Anehnya, merosotnya harga ternak sapi tersebut tidak koheren dengan harga daging sapi. Harga daging justru mengalami lonjakan signifikan. Saat ini harga daging sapi menembus angka Rp 70 ribu per Kg.

Menanggapi hal ini, Budi Wiyana beralasan, tidak semua sapi yang terjual difungsikan sebagai sapi potong. Ditambah lagi perilaku pedagang sapi potong yang sengaja membatasi kuota, menyebabkan harga daging sapi naik di pasaran. (jb8/jb1)

Subscribe to Comments RSS Feed in this post

2 Responses

  1. tata niaga sapi dikuasai blantik, tapi sekarang blantiknya juga banyak yg bangkrut sebentar lagi pemerintahnya yang bangkrut.

  2. tragis dan ironis memang nasib petani peternak harga sapi di pasaran tidak kunjung membaik padahal harga daging di pasaran sekitar 60.000/kg
    sebagai gambaran th 2008 harga 1 ekor sapi idukan berkisar 7.500.000, saat sekarang klo itu dijual harganya 3.500.000, aku pikir pemerintah dlam hal ini menteri pertanian koq tidak peka dan justru kebijakan impor sapi dampak buruk yang menanggung para petani desa yang rata-rata mempunyai sampingan pelihara ternak, jadi jangan salahkan klo pejabat2 merasa PUNYA rakyat, saya kira pejabatnya aja yang Gr lha wong rakyat tidak merasa punya pejabat atau wakil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*