Ketergantungan Pada Pupuk Kimia Masih Tinggi

\"\"

TUBAN (Jurnalberita.com) – Kendati sudah mengetahui dampak negatif pupuk kimia terhadap kesuburan tanah, namun para petani mengaku masih enggan melepas ketergantungannya pada pupuk produk pabrikan tersebut.

Menurut sejumlah petani ang ditemui jurnalberita.com, Senin (17/1), pupuk kimia, terutama jenis urea, tetap dibutuhkan karena mempercepat pertumbuhan dan pembuahan. “Kami belum berani menggunakan pupuk organik,karena takut tanaman terlambat berkembang,” kata Junaidi (54), salah satu petani asal desa setempat.

Junaidi sendirimengaku sadar kondisi tanahnya semakin hari semakin tidak subur karena banyaknya residu pupuk kimia. Namun, katanya, bila diminta mengurangi penggunaan pupuk kimia, dia belum berani menganggung resiko kerugian. Sebab, selain tanaman lambat berkembang, kondisi cuaca yang tidak menentu menyebabkan petani harus melakukan dua kali penanaman. “Kerugian petani akan lebih besar jika pupuk kimia dikurangi,” dalih Junaidi.

Hal senadadisampaikan Ahmad Muslich (50), petani lainnya. Menurut Ahmad Muslich, rata-rata petani menghasilkan 7-8 ton per hektar dengan pupuk kimia. Namun, dengan pupuk organik, diperkirakan hasilnya hanya sampai 5 ton per hektar. “Jumlah pupuk yang kami butuhkan juga lebih banyak kalau pakai organik,” kata Muslich.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan (DPPK) Kabupaten Tuban  Ir.H. Koesno Adiwijoto, mengatakan, sudah saatnya petanimenggunakan pupuk organik untuk mengembalikan hara tanah. Sebab jika haltersebut tidak segera dilakukan, lima hingga sepuluh tahun ke depan kondisi tanah akan semakin rusak.

“Kalau sudah rusak, pertanian juga akan menurun hasilnya. Katakanlah, kita butuh masa transisi saat ini untuk kembali ke pertanian organik, seperti sebelum adanya pupuk kimia,” jelas Kusno Adiwijoto.

Menurut Kusno Adiwijoto, justru petani diuntungkan dengan penggunaan pupuk organik. Sebab selain bahan-bahan mudah didapat, pembuatannya pun sangat mudah sehingga akan memberi dampak ekonomis luar biasa terhadap petani.

“Bayangkan, petani tidak perlu lagi mengeluarkan uang sampai jutaan rupiah untuk beli pupuk. Sudah begitu dipermainkan lagi. Kalau petani bisa bikin pupuk sendiri, tak akan ada kelangkaan pupuk,” tegas Kusno Adiwijoto.

Selain itu,lanjut Kusno Adiwijoto, lingkungan juga sehat sebab limbah pertanian tidak akan dibiarkan menumpuk dan mencemari lingkungan. Bahan pupuk organik 70 persen kotoran ternak, ditambah jerami, sekam dan bekatul. Untuk pengurainya, digunakan Efective Micro Organisme (EM). “Bahan-bahan tersebut cukup dicampur jadi satu, lalu dibiarkan dalam keadaan tertutup seminggu. Sesudah itu bias dipakai untuk memupuk tanaman,” jelas Kusno Adiwijoto.

Kusno mengakui, tidak mudah mengalihkan petani ke pertanian organik. Masih tingginya kebutuhan pupuk non organik menunjukkan masih tingginya ketergantungan petani terhadap pupuk keluaran pabrik tersebut.  “Total alokasi pupuk tahun ini sebanyak 51,9 ribu ton,” jelas Kusno.

Sejumlah upaya untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk non organik telah dilakukan. Selain penyuluhan dan pelatihan, penyertaan pupuk organik dalam paket pembelian pupuk bagi petani diharap mampu mengakrabkan petani pada pupuk organik. (jb8/jb2)

Tags: , , ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

2 Responses

  1. betul apa yang dikatakan komentar di atas kondisi tanah pertanian kita sudah rusak dan sangat membutuhkan kandungan mikroorganisme di dalam tanah kita, kami menawarkan prodak yang berkualitas tinggi yang di dalamnya ada 9 mikroba yang menguntungkan tanah yaitu PUPUK BIO ORGANIK HERBAFARM.
    terimakasih ayo kita bangkit dari keterpurukan di dalam dunia pertanian.

  2. Demi menolongpara petani pacitan, karena keluarga saya juga di pacitan. Bagaimana klo di ganti dengan pupuk kandang yang asli dengan harga murah, saya siap bantu 085725372755

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*