Kebelet Nikah Muda, Ribuan Lulusan SMP Pacitan Pilih Putus Sekolah

PACITAN (jurnalberita.com) – Keinginan menikah di usia muda ternyata menjadi faktor turunnya minat lulusan SMP di Pacitan Jawa Timur untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan SLTA. Selain karena masalah akses, faktor budaya juga ikut mempengaruhi minat lulusan sekolah pertama untuk melanjutkan ke SLTA.

“Ada faktor budaya yang mempengaruhi,” kata Sekretaris Dinas Pendidikan (Dindik) setempat Cipto Yuwono, Rabu (1/2/2011).

Beberapa lulusan SMP di daerah tertentu khususnya di pelosok, mereka lebih memilih menikah karena faktor ekonomi dan dorongan keluarga. (foto:frend/jurnalberita)

Faktor budaya tersebut adalah pernikahan usia muda. Beberapa lulusan SMP di daerah tertentu khususnya di pelosok, mereka lebih memilih menikah karena faktor dorongan keluarga. Tidak itu saja, bahkan ada diantara mereka karena alasan ekonomi akhirnya memutuskan untuk bekerja. “Terkait dengan budaya, perlu waktu lama (mengubahnya, red),” terang Cipto.

Budaya kawin dini itu sebanding dengan data yang ada di pengadilan agama setempat. Tercatat pada tahun 2010 lalu sedikitnya ada 75 pasangan yang mengajukan dispensasi perkawinan. Dispensasi bertujuan untuk meloloskan syarat pernikahan dari mereka yang usianya belum cukup bila mengacu pada UU Perkawinan Nomor 01 Tahun 1974. Untuk pria masih di bawah 19 tahun dan perempuan di bawah 16 tahun.

Jumlah pengajuan dispensasi perkawinan itu meningkat, jika dibandingkan tahun 2009 hanya ada 54 pengajuan ke PA. Pertambahan itu, dinilai Nasrudin, karena terjadinya penurunan moralitas di kalangan remaja. Bahkan, menyia-nyiakan kepercayaan dari orang tua. “Rata-rata mereka menjalin hubungan pacaran tapi keblabasan,” ungkapnya.

Dari data di Diknas, jumlah siswa sekolah lanjutan pertama yang tidak meneruskan pendidikan mencapai 1.092 orang. Sebagian besar didominasi siswa laki-laki yang berjumlah 677 orang. Penyumbang terbesar berasal dari wilayah Kecamatan Kebonagung (229), Punung (159), Sudimoro (124), dan Arjosari (111). Paling sedikit adalah wilayah Kecamatan Pacitan dengan 34 orang siswa. Mereka kini mengikuti program kejar paket C.

Sedangkan untuk siswa yang tidak lulus SMP sebanyak 579 orang. Di mana 343 orang diantaranya adalah siswa laki-laki. Kecamatan Sudimoro menjadi wilayah asal siswa terbanyak dengan jumlah 112 orang. Diikuti Kecamatan Tegalombo (84), Tulakan (82), dan Punung (48).

Mengenai rendahnya akses, hal itu diakui Cipto. Dari 12 kecamatan yang ada belum seluruhnya memiliki sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA). Seperti di wilayah Kecamatan Kebonagung dan Arjosari. “Untuk SLTA memang belum semua kecamatan ada,” tandasnya. (jb15/jb1)

Tags: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site