Makin Seru, Rachman – Suhartin Saling Gugat

Abdurachman saat diwawancarai. (mashur/jurnalberita)

SURABAYA (Jurnalberita.com) – Sungguh seru dan unik. Dua kader Partai Demokrat Jatim berperang dan saling melakukan ‘gugatan politik’ di meja hijau, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Damanik SH, selaku Ketua Majelis Hakim dalam gugatan Suhartin kepada Abdurachman pun geleng-geleng kepala. “Aneh tapi nyata, seharusnya Rachman menggugat Suhartin dan bukan sebaliknya,” celoteh Damanik.

Sidang yang menggelar perang dan gugatan politik itu, sudah berjalan setahun lebih. Namun belum ada lampu hijau dan titik terang bagi kemenangan Suhartin, anggota DPRD Jatim. Mengapa Suhartin yang berparas ayu itu meradang dan terus menggugat Abdurachman melalui jalur hukum perdata dan pidana? Benarkah Suhartin merasa dicemarkan dan khawatir kursi yang diperolehnya dalam Pileg 2009 bakal lepas?

Suhartin, hampir tak masuk dan dilantik menjadi anggota dewan lantaran adanya laporan tertulis kepada DPP Partai Demokrat di Jakarta. Ketua Umum Partai Demokrat, yang saat itu masih dijabat Hadi Utomo,  akhirnya menerbitkan surat, dan meminta pihak Kementerian Dalam Negeri tidak melantik atau menunda pelantikan Suhartin menjadi anggota DPRD Jatim dari daerah pemilihan (Dapil) VIII.

Namun, pihak Kemendagri tak mengindahkan dan tetap mencantumkan nama Suhartin dalam deretan nama anggota yang dilantik saat itu. Padahal, secara organisasi, Suhartin dicabut keanggotaannya dari Partai Demokrat. Ini berarti, Suhartin menikmati gaji ilegal dengan kemudahan formalitas dari Kemendagri.

“Suhartin tidak punya KTA Partai Demokrat sebelum pelantikan, tapi diperkenakan oleh Depdagri akan menjadi masalah hukum pidana korupsi tersendiri,” sentil staf ahli hukum KPU Jatim.

Suasana sidang yang dipimpin Damanik SH, dengan JPU Rachmat Basuki terkesan tidak selaras dan kurang menguasai persoalan. Sebab, jaksa terkesan baru kali ini menangani gugatan dan perang politik yang bisa menjadi fenomenal ‘uler of law’.

Karena peradilan dengan materi khusus, pengunjung pun memadati ruangan sidang sekaligus menjadi katarsis bagi warga kota Surabaya yang jemu menyaksikan deretan sidang kriminalitas. “Saya jadi paham, kalau partai besar ini melakukan kecurangan dalam Pemilu kemarin,” seloroh Hakim, ketika mendengarkan penjelasan saksi Djunaidi dan tergugat Abdurachman.

“Kenapa tidak saudara gugat,” tanya Damanik kepada Abdurachman, yang mengakui melakukan kesalahan dalam prosedur pendulangan suara di Dapil VIII bagi kemenangan Suhartin. “Saya tak mungkin menggugat, karena digugat duluan. Padahal, Suhartinlah yang tidak memenuhi janji, setelah dimenangkan dan pasti dilantik,” jelas Rachman di depan persidangan.

Awalnya, kata Rachman, ia diminta tolong dan disuruh oleh Suhartin bersama suaminya Indra Mustofa, untuk melakukan pendulangan suara untuk kemenangan Suhartin. Pola penggelembungan, khusus bagi Suhartin berlangsung manis, meski saat itu Suhartin tak pernah turun dan menyapa para pemilihnya.

“Saya dibekali dana awal Rp 40 juta dan sisanya Rp 210 juta belum dilunasi. Karena wanprestasi, maka aku laporkan ke DPP Partai Demokrat sesuai petunjuk Ketua DPD Partai Demokrat Jatim. Dan secara teknis, penggelembungan dilakukan oleh Parata yang juga dilantik menjadi anggota Dewan, namun tak sampai setahun ia meninggal dunia,” ungkap Rachman kepada majelis hakim.

Kini, Rachman mencapai puncak kedongkolannya. Ia akan menggugat balik Suhartin. pertimbangannya, kata Rahman, pertama karena Suhartin yang kalah dalam gugatan perdata masih ngotot banding, kedua, tidak tepat janji dan ketiga dia makan gaji buta alias dana negara secara illegal.

“Materi itu cukup mendasar, apalagi Suhartin dan Indra Mustofa agak arogan, seakan mereka mutlak benar sendiri,” pungkas Abdurachman, yang akan melaporkan Suhartin ke Polda Jatim dalam minggu ini. (jb5)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site