Harga Pangan Naik, Pemkab Berdayakan Non Beras

Salah satu produk Non Beras yang kini terus diberdayakan Pemkab Pacitan guna mengantisipasi naiknya harga pangan. (frend/jurnalberita)

PACITAN (Jurnalberita.com) – Diprediksi, dalam waktu yang akan dating, harga beras akan cenderung mahal. Hal ini didasarkan pada kenyataan perkembangan harga pasar pangan dunia yang cenderung mengalami kenaikan.

Terkait hal itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pacitan melalui  Kantor Ketahanan Pangan Pacitan menghimbau kepada masyarakat untuk waspada menghadapi kenaikan pangan tersebut.

“Kendati stok mencukupi, bulan Januari dan Februari kemarin inflasi harga pangan tergolong tinggi, masyarakat harus waspada,” ungkap Pamuji, kata Kepala Kantor Ketahanan Pangan Pacitan, Jumat (11/3).

Diakui Pamuji, secara umum kondisi pangan Pacitan memang masih aman. Dari data yang ada, cadangan beras saat ini masih 27 ribu ton. Sedangkan bahan pangan non beras, cadangan lebih banyak berada di masyarakat, seperti ubi, singkong maupun jagung. Selama ini tingkat konsumsi bahan pangan substitusi itu masih rendah, hingga setiap tahun selalu surplus singkong surplus 35 ton.

Selain mengantisipasi kondisi rawan, penganekaragaman pangan, pada sisi lainnya ikut menekan tingkat konsumsi rumah tangga karena harga yang lebih murah. “Jikalau mampu menghemat satu sendok saja setiap hari masing-masing orang, setiap tahun kita bisa hemat beras sekitar 20 ribu ton,” terang Pamuji.

Penghematan sebanyak itu didasarkan pada rasio dan perhitungan tingkat konsumsi perkapita. Dari 558.664 ribu penduduk tahun 2010, rata-rata menghabiskan 124 kilogram per tahun. “Angka konsumsi itu dianggap lebih jika mengacu pada pola pangan menurut standar kesehatan. Sesuai angka standar, tingkat konsumsi harusnya di kisaran 80-90 kilogram,” imbuhnya.

Antisipasi kerawanan pangan ungkap Pamuji, tidak hanya mengandalkan tanaman. Tetapi juga bisa dilakukan dengan meningkatkan konsumsi ikan, baik ikan air tawar maupun laut. Terlebih, nilai gizinya dibanding dengan daging sama namun dari segi harga lebih murah. Sedangkan pasokan ikan laut untuk Pacitan sebenarnya mencukupi.

Dari data Dinas Kelautan dan Perikanan, tahun 2010 jumlah tangkapan ikan mencapai 5.056,898 ton. Lebih banyak dari tahun 2009 yang hanya 4.555,143 ton. Untuk menurunkan tingkat konsumsi beras bukan perkara mudah. Pasalnya, merubah pola perilaku konsumsi tidak seperti membalik telapak tangan.

“Memang beras sudah terlanjur identik dengan bahan pangan pokok. Kendati tak semudah membalikkan telapak tangan, Ini tetap akan kita sosialisasikan secara intensif dan terus menerus,” pungkas Pamuji. (jb15/jb2)

Tags: , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site