Kebersihan Produk Perikanan Masih Rendah

Bupati Pacitan, Indartato di TPI Tamperan. (foto : frend / jbc)

PACITAN (Jurnalberita.com) - Faktor higienitas dan sanitasi penanganan produk perikanan pasca penangkapan di Jawa Timur (Jatim) terbilang masih rendah, khususnya untuk produk yang ditujukan pada pasar lokal.

Tak hanya didaerah, hal serupa juga dijumpai di kota-kota besar yang infrastrukturnya lebih lengkap. “Contohnya di Surabaya. Baru sekitar 10 persen (penggunaan standar penanganan produk perikanan, red),” kata staf Bidang Pengolahan Dan Pemasaran Hasil Perikanan (PPHP) Dinas Kelautan Dan Perikanan Jatim, Anwar Sobari, disela-sela memberikan sosialisasi penanganan tangkapan ikan di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Tamperan, Kabupaten Pacitan, Senin (21/3).

Standar yang dimaksud, diantaranya penggunaan es sebagai pengawet, cara membersihkan hasil tangkapan dan hal lainnya. Terlebih, ikan merupakan salah satu sumber makanan yang kaya gizi dan protein serta banyak digemari masyarakat. Sehingga, mutu dan kondisinya harus benar-benar diperhatikan meski hanya diperuntukkan bagi pasar lokal.

Diharapkan, penerapan sistem rantai dingin pada hasil perikanan, selain bisa meningkatkan daya jual juga dapat menjamin kesehatan produk. Anwar mengatakan, guna menunjang upaya itu, selain melalui sosialisasi dan pendidikan, pemerintah juga menyediakan sarana penunjang pemasaran, misalnya, kotak sterofoam pendingin, sepeda motor atau es batu.

Diakuinya, mutu ikan pada pasar lokal tidak mempengaruhi persaingan dengan daerah lain, kecuali untuk pasar internasional. “Apalagi ada program gemar makan ikan dari pemerintah. Dari target nasional 26 kilogram perkapita per tahun, Jawa Timur masih dibawah 20 kilogram,” kata dia.

 

Sementara itu, Bupati Pacitan Indartato mengakui, seiring dengan pembanguanan sektor kelautan lewat program minapolitan, kedepan penangan produk perikanan pasca penangkapan diharapkan akan lebih terjaga kualitasnya.

“Perikanan pantai dan tangkapan lepas di perairan juga menjadi perhatian yang serius dalam rangka meningkatkan kesejahteraan serta pendapatan para nelayan,” ungkapnya.

Dirinya mengakui, Penetapan target produksi budidaya tidak bisa lagi hanya didasarkan pada potensi lahan dan kualitas air yang bagus, tidak juga pertimbangan ketersediaan sarana dan prasarana produksi saja, tetapi yang cukup mendesak untuk dipikirkan adalah seberapa besar produksi budidaya tersebut dapat terserap pasar lokal, domestik, maupun ekspor dan bagaimana elastisitas harganya.

“Target produksi harus mencerminkan volume produksi yang dapat mendatangkan pendapatan maksimal bagi pembudidaya. Sebaliknya, produksi maksimal akan percuma, apabila ikan yang dihasilkan tidak mampu terserap oleh pasar. Sehingga, dengan produksi yang tinggi, justru terjadi penurunan pendapatan,” jelas Indartato

Produksi sektor perikanan Jatim, baik tangkap maupun budidaya, tahun 2010 mencapai 962.665,8 ton. Jumlah itu naik 5,31 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 914.088,4 ton. Sebagian besar berasal dari perikanan sektor usaha budidaya, mencapai 617.416,1 ton. Naik 21,89 persen dibandingkan dengan 2009 sebanyak 506.512,5 ton. (jbc15/jbc2)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site