Mayoritas Perusahaan di Indonesia Abaikan Kesehatan Reproduksi Wanita

UU No. 36 Tahun 2009: Perusahaan Wajib Menanggung Seluruh Biaya Pemeliharaan Kesehatan

JAKARTA (jurnalberita.com) – Mayoritas perusahaan-perusahaan di Indonesia masih mengabaikan kesehatan reproduksi perempuan, di mana diperkirakan hanya 20 dari 200 ribu perusahaan yang benar-benar memberi layanan itu.

“Baru 20 perusahaan yang memberi fasilitas cukup bagi perempuan hamil dan menyusui seperti cuti bersalin cukup, menyediakan tempat menyusui di mana ibu bisa memerah ASI disitu maupun melakukan kerjasama dengan Puskesmas dan rumah sakit,” ujar Menteri Kesehatan, Endang Rahayu Sedyaningsih di Jakarta.

Pernyataan tersebut disampaikan Menkes saat menutup seminar sehari Kesehatan Reproduksi di tempat Kerja dalam Rangka Mendukung MDGs di gedung Bidakara, Jakarta.

Padahal jumlah pekerja perempuan baik di sektor formal maupun informal sangat besar, yaitu sebanyak 39,95 juta jiwa, dengan 25 juta di antaranya berada dalam usia reproduksi 15-45 tahun.

Kelompok usia reproduksi itu dinilai membutuhkan perhatian khusus sesuai kodratnya dan sudah dijamin dalam Undang-Undang (UU) Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan.

Selain itu, dalam UU No.36/2009, perusahaan diwajibkan untuk menanggung seluruh biaya pemeliharaan kesehatan termasuk pekerja perempuan termasuk layanan kesehatan reproduksi.

Bahkan dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) ASI yang akan ditetapkan, perusahaan yang tidak memberikan fasilitas bagi ibu menyusui termasuk kesempatan memberikan ASI ekslusif selama enam bulan akan mendapatkan sanksi. (*/jb1)

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site