Api Abadi Mrapen Ditawarkan Rp 2,1 Miliar

Api Abadi Merapen. (foto:jbc13/jbc)

GROBOGAN (jurnalberita.com) – Sejak Tahun 2005, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Grobogan sudah tak lagi ikut campur tangan dalam pengelolaan objek wisata Api Abadi Mrapen. Padahal, beberapa kegiatan tingkat nasional maupun internasional masih memanfaatkan nyala api dari objek wisata yang terletak di Desa Manggarmas, Kecamatan Godong ini.

“Karena sudah tidak lagi ikut mengelola, ya sebaiknya saya jual saja mas. Daripada sudah tidak lagi menghasilkan pendapatan. Padahal nilai historisnya cukup tinggi,” kata pemilik lahan Api Abadi Mrapen, Gunadi, pada jurnalberita.com.

Gunadi membuka harga sebesar Rp 2,1 miliar untuk memiliki lahan seluas 8.600 meter persegi itu. Namun, sejak ditawarkan pertengahan Tahun 2010 lalu, hingga saat ini belum ada satupun yang berminat membelinya.

“Kemarin salah satu teman saya mengabari jika ada pihak yang berminat untuk membelinya. Tapi hingga sekarang orang tersebut belum pernah menghubungi saya,” ujar Gunadi yang juga PNS di Kantor Kecamatan Purwodadi ini.

Sebelum dilontarkan hendak menjual Api Abadi Mrapen kepada khalayak, Gunadi sempat menawarkan kepada Pemkab, Pemprov, maupun pemerintah pusat. Namun, hingga saat ini pihaknya juga belum mendapat respon. Api dari Api Abadi Mrapen memang sangat terkenal karena seringnya digunakan untuk menyulut obor dalam kegiatan di tingkat nasional dan internaisonal.

“Memang saat ini nyala sumber apinya mengecil. Selain itu pengunjung yang datang juga mulai menurun,’’ katanya. Karena alasan inilah, tempat historis tersebut tidak bisa lagi diandalkan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Bahkan saat ini, pihaknya tidak lagi memungut karcis tanda masuk lokasi, mengingat sepinya pengunjung.

“Jika turun hujan, sumber api malah membesar, inilah keanehannya. Dan, satu lagi kelebihan dari tempat ini yakni masih menjadi rujukan even-even kelas nasional maupun dunia,” paparnya.

Dicontohkan, pada Tahun 2010 lalu, Api Abadi Mrapen digunakan untuk menyalakan Api Waisak. Selain itu dalam Asean Beach Games II Tahun 2010 yang diselenggarakan di Muscat, Oman, obor dalam even tersebut juga disulut dari Api Abadi Mrapen. Namun, karena nyala api mulai surut, hal itu menjadi sebuah kendala tersendiri. Sehingga apabila hendak digunakan untuk pengambilan api, harus dibantu dengan piranti batu bara atau minyak tanah.

“Beberapa titik dan sudut dalam kompleks Mrapen juga kurang terawat, termasuk jalan masuk menuju lokasi sepanjang 500 meter juga sudah rusak. Selain karena apinya mulai surut, sarana prasarana pendukungnya juga minim, sehingga pengunjung banyak berkurang,” ujar Sugiyanto warga Godong.

Menurut sejarah, Api Abadi Mrapen merupakan peninggalan Sunan Kalijaga pada abad XV. Selain sumber api abadi, di kompleks wisata itu juga terdapat Batu Bobot dan Sendang Dudo. Konon, Api Abadi, Batu Bobot dan Sendang Dudo ditemukan pertama kali oleh Sunan Kalijaga. Oleh Empu Supo seorang pembuat keris, api tersebut digunakan untuk membakar besi/baja dalam proses pembuatan keris, sementara Batu Bobot digunakan untuk menempa, dan air dari Sendang Dudo digunakan untuk menyepuh keris. Salah satu keris yang dibuat Empu Supo bernama Kiai Sengkelet, merupakan pusaka kerajaan Kasultanan Bintoro Demak. (jbc13/jbc1)

 

Tags: 
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

  1. api abadi mrapen merupakan tempat wisata kah sampai sekarang,kalau di mojokerto sumber api panas apa juga masih ada

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site