Dipaksa Jual Pertamax, Pengusaha SPBU Merugi

\"\"LUMAJANG (jurnalberita.com) – Pengusaha SPBU di Kabupaten Lumajang dihadapkan dengan lesunya tingkat penjualan BBM (Bahan Bakar Minyak) jenis Pertamax. Tingkat permintaan konseumen terhadap bahan bakar dengan harga cukup mahal ini, relatif rendah hingga berakibat pengusaha SPBU di Kota Pisang ini merugi.

Disampaikan M Amsori, pemilik SPBU 54.637.05 di Dusun Bagusari, Kelurahan Jogotrunan, Kecamatan Kota Lumajang. Dikatakan M Amsori, sejak periode Tahun 2011 ini, tingkat permintaan konsumen dan tingkat penjualan BBM jenis pertamax memang cenderung terus menurun.

Hal itu dibuktikan dengan DO (Delivery Order) yang dibeli dari Pertamina Depo Surabaya sebanyak 8 ribu liter, baru habis terjual selama kurun sebulan penjualan. “Setiap membeli DO dari Pertamina depo Surabaya, saya selalu meminta pasokan Pertamax sebanyak 8 ribu liter. Namun, penjualannya terus seret, dan baru habis selama sebulan,” kata M Amsori selaku pengelola SPBU Bagusari.

Pembelian DO Pertamax itu, masih katanya, tidak berubah dari Tahun 2010 lalu. Hanya saja, setelah harga Pertamax mengalami kenaikan, tepatnya sejak 16 Maret lalu, menjadi Rp 9 ribu perliternya, penjualan terus menurun. “Hanya pengguna mobil-mobil mewah saja yang membeli BBM jenis pertamax. Padahal, di Lumajang pemilik kendaraan mewah bisa dihitung dengan jari,” paparnya.

Dari angka penjualannya, lanjut M Amsori, ia menempatkan outlet Pertamax tersendiri di SPBU yang dikelolanya dengan dijaga tenaga operator tersendiri yang dibagi tugas dalam 3 shift berbeda.

“Setiap shift operator Pertamax, paling bagus menjual 75 liter saja. Itu kalau siang. Kalau memasuki shift malam, menjual 17 liter saja sudah bagus. Dalam 24 jam penjualan, saat ini kami bisa menjual BBM jenis pertamax kurang dari 200 liter saja. Padahal, pada Tahun 2010 lalu, ketika harga Pertamax Rp 7 ribu, penjualannya stabil. Tingkat permintaan konsumen, bisa mencapai 500 liter perharinya,” beber M Amsori.

Karena penjualan pertamax ini, menjadi syarat yang harus dipenuhi SPBU, maka pemilik SPBU Bagusari ini tidak bisa berbuat banyak. ”Kerugian yang kami peroleh, bisa ditekan dengan mengurangi operator outlet pertamax dan ditangani operator premium atau penjualan solar. Dengan begitu, kami bisa menekan kerugian dan cenderung sama sekali tidak untung alias pas,” bebernya.

Selama Tahun 2010 sampai 2011 ini, harga pertamax sudah mengalami menaikan sampai 6 kali. Yang pertama tahun 2010 lalu, sebesar Rp 7 ribu perliternya. Selanjutnya, naik menjadi Rp 7250 perliter, lalu naik lagi pada Tahun 2011 menjadi Rp 8350. Sempat turun Rp 8250 dan kemudian naik lagi menjadi Rp 8350 dan terakhir 16 Maret lalu naik menjadi Rp 9 ribu perliternya. (*/jbc1)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*