Dituntut JPU 4 Tahun, Soekotjo Meradang

Soekotjo dan penasehat hukumnya dalam sidang tuntutan. (jbc4/jbc)

SURABAYA (Jurnalberta.com) – Setelah pada hari Kamis  (31/3) sidang lanjutan penggelapan dokumen perusahaan, dengan terdakwa Soekotjo Gunawan sedikit ‘panas’ dan sempat terjadi perdebatan antara kuasa hukum terdakwa, Juniver Girsang dan jaksa penuntut umum (JPU), akhirnya sidang dilanjutkan pada hari Juma’at (3/4).

Pada sidang sebelumnya, kuasa hukum terdakwa sempat beradu argumen dengan JPU Rista Erna karena JPU berniat kembali menghadirkan dua orang saksi yang dianggap bakal memberatkan kliennya.

Padahal, sesuai agenda persidangan, Kamis (31/3) adalah sidang pembacaan tuntutan oleh jaksa kepada Soekotjo, selaku Direktur Utama PT GKI.  Namun, dari perdebatan yang sengitu, akhirnya majelis hakim yang diketui Gusrizal mengabulkan permohonan JPU.

Dua orang yang dihadirkan JPU dalam persidangan adalah Hendri Kaunang, yang dikenal tangan kanan Alim Markus, salah seorang pemegang saham PT Grand Kota Investama (GKI), dan Hoki Gunarto, yang juga penanam saham PT GKI.

Tak heran bila jalannya persidangan selalu diwarnai keberatan dari kuasa hukum terdakwa terhadap keterangan saksi yang dihadirkan. “Apa yang dikatakannya oleh saksi itu tidak rasional dan terkesan rekayasa. Pak Hakim, kami keberatan dengan apa yang dipaparkan saksi,” kata Juniver Girsang kepada majelis hakim saat itu.

Kuasa hukum terdakwa ini menilai bila paparan saksi didepan persidangan (31/3) tersebut hanya berdasarkan informasi dan bukan atas dasar keterlibatan secara langsung dan keterangan saksi tidak menyaksikan secara langsung dan berdasar fakta.

Meski berkali-kali menjukan protes, namun hingga sidang usai, majelis hakim tetap tidak menghiraukannya dan tetap menjadwalkan sidang lanjutan pada hari Jumat (1/4) dengan agenda pembacaan tuntutan.

Penasehat Hukum terdakwa Soekotjo, Juniver Girsang. (jbc4/jbc)

Seperti pada sidang sebelumnya, sidang dengan agenda pembacaan tuntutan pada hari Jum’at (1/4) juga kembali memanas. Bahkan, suasana panas itu terlihat sebelum jalannya persidangan yang dipimpin Majelis Hakim, Gusrizal.

Sebelum sidang dimulai, rombongan pendukung Soekotjo dan penasehat hukum, termasuk terdakwa Soekotjo sempat bersitegang. Hal itu disebabkan hadirnya dua orang saksi tambahan yang dihadirkan JPU yang dikabulkan majelis hakim pada sidang sebelumnya, berdampak psikologis pada terdakwa, yang tiap kali menghadiri sidang selalu mengenakan kursi roda.

Meski pada awal persidangan terdakwa tidak yakin JPU bakal menuntutnya dengan tuntutan 4 tahun, namun JPU tetap menuntut terdakwa Soekotjo dengan ancaman hukuman 4 tahun.

Sebelum sidang diakhiri, majelis hakim mempertanyakan tuntutan tersebut kepada terdakwa. “Bagaimana dengan hasil pembacaan tuntutan JPU selama 4 tahun,?” tanya hakim kepada terdakwa.

Dengan tegas terdakwa menjawab keberatan. “Maaf majelis hakim, kami merasa keberatan dan tuntutan hukuman 4 tahun kepada kami itu tidak adil. Sebab, tuntutan yang dibacakan jaksa tidak benar dan penuh rekayasa,” kata terdakwa Soekotjo kepada hakim.

Tuntutan itu juga direaksi sama oleh penasehat hukum terdakwa, Juniver Girsang. “Dengan secepatnya atau sekurang-kurangnya 7 hari, kami akan melakukan pembelaan atau pledoi kepada majelis hakim,” tegas Juniver.

Sebelum persidangan ditutup, Gosrizal selaku ketua majelis hakim mengagendakan sidang berikutnya dengan agenda pembelaan terdakwa, Soekotjo yang akan digelar pada hari Senin, mendatang. (jbc4/jbc2)

 

Tags: , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site