KPRL, Budaya Menanam Perkuat Ketahanan Pangan

\"\"

PACITAN (Jurnalberita.com) – Masalah ketersediaan pangan dimasa yang akan datang, baik skala nasional maupun dunia terus dicermati pemerintah. Dalam upaya memperkuat ketahanan pangan, melalui Kementerian Pertanian dirintis Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL).

“Ketahanan pangan akan lebih kuat apabila basisnya di rumah tangga,” ujar Menteri Pertanian (Mentan) Suswono ketika berkunjung ke Kabupaten Pacitan, Sabtu (9/4/2011).

Sebagai tindak lanjut, Kementerian Pertanian (Kementan) menggulirkan program KRPL. Dalam program itu dikembangkan sejumlah jenis tanaman pangan produktif dan ternak. Untuk tanaman, antara lain jenis sayur, buah, cabai maupun empon-empon. Sedangkan ternak, dapat berupa budidaya lele, ayam, dan kambing.

Namun pengembangan itu masih tergantung luasan lahan yang tersedia. Artinya, penerapannya dilakukan dengan sistem grid. Misalnya, grid satu untuk tanah pekarangan yang sempit dan lain sebagainya. Jadi, semakin luas lahan, ragam tanaman dan ternak yang dibudidayakan juga semakin banyak.

Diakui Mentan, upaya semacam itu sudah pernah dilakukan masyarakat. Hanya saja, seiring perkembangan waktu pengembangan tanaman pangan di pekarangan mulai ditinggalkan. Sebab, masyarakat merasa punya uang, sehingga beranggapan semua bisa dibeli.

Padahal, ketersediaan barang kebutuhan tersebut tidak selalu ada dipasaran. “Seperti kemarin, kita dikagetkan dengan harga cabai yang diatas Rp 100 ribu. Budaya (menanam dipekarangan, red) inilah yang akan kita bangkitkan kembali. Padahal, ini sudah lama dilakukan dan masyarakat terbiasa menanam disekitar rumah. Dan ini mulai ditinggalkan,” akunya.

Upaya penguatan dan ketersediaan pangan sesuaidengan instruksi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  agar negara harus bisa dan mampu menjadi produsen bahan pangan, khusus beras, yang ditargetkan dalam 5-10 tahun kedepan, bisa surplus 10 juta ton, sehingga tidak perlu impor.

Tidak hanya di desa, upaya serupa juga bisa diaplikasikan di kota-kota besar. Salah satunya dengan menanam menggunakan polibag. Sehingga, faktor keterbatasan lahan akibat padatnya pemukiman bukan lagi menjadi alasan. Terlebih, pihak Kementan telah mengembangkan budidaya tanaman secara vertikultur.

Sementara itu, Bupati Pacitan, Indartato mengakui, Program RPL merupakan sebuah terobosan untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri, baik secara energi maupun gizi. “Muaranya tertuju pada pertumbuhan penduduk yang sehat.”

“ Untuk saat ini, kawasan RPL di Pacitan baru diaplikasikan untuk 37 kepala keluarga (KK). Sesuai target, pada tahun 2015 keberagaman pangan masyarakat berada di angka 95. Hal serupa juga dipatok untuk pemenuhan gizi,” ungkap Bupati. (jbc15/jbc2)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*