Supermarket Menjamur, Pembatasan Sebatas Kajian

\"\"

PACITAN (Jurnalberita.com) – Menjamurnya supermarket di beberapa wilayah, khususnya di Kabupaten Pacitan, mulai dikeluhkan sejumlah pedagang di pasar tradisional. Guna mengantispasi dan merespon kekhawatiran para pedagang di pasar tradisional tentang keberadaan Supermarket, Pemkab Pacitan dalam waktu dekat akan melakukan pengedalian melalui peraturan daerah (Perda).

Hal itu dikatakan Sekretaris Daerah Kabupaten Sekdakab) Pacitan, Mulyono, kemarin. Menurutnya, keluhan para pedagang di pasar tradisional sangat beralasan. “Kita akan kendalikan melalui Perda dan memang harus dibatasi,”  ujar Mulyono, Jum’at (22/4).

Hanya saja, untuk menghasilkan Perda, masih memerlukan kajian lebih dalam oleh bagian Penelitian Dan Pengembangan (Litbang). Saat ini, di Kabupaten yang mendapat julukan Kota 1001 Goa, sudah berdiri sekitar delapan supermarket. Jumlah itu belum termasuk diwilayah-wilayah kecamatan di luar kota. Bangunan dan lokasi belanja modern sudah tersebar di berbagai jalan protokol di pusat kota.

Jumlah lokasi dan berdirnya Supermarket, dinilai sudah terlalu banyak bila dilihat dari luas wilayah Kabupaten Pacitan. Terlebih, pada Sabtu (16/4) lalu, Menteri Perdagangan (Mendag), Marie Elka Pangestu, meresmikan pasar tradisional Minulyo di Kelurahan Baleharjo menjadi salah satu lokasi pengembangan pasar percontohan di Indonesia.

Sekda menjelaskan, sebenarnya kehadiran supermarket bisa menjadi barometer untuk meningkatkan daya saing serta memperbaiki manajemen pasar tradisional, misalnya, penataan dagangan dan kemasan komoditas yang diperdagangkan. Jika semua sudah bisa berjalan, Mulyono yakin, para pembeli akan memilih belanja di pasar tradisional, karena dari segi harga lebih murah.

“Dari studi banding sebelumnya ke pasar di BSD (Bumi Serpong Damai) Tangerang, dagangan yang akan dijual disortir terlebih dahulu. Sehingga, ketika dijajakan terlihat lebih menarik,” jelasnya.

Karena itu, Mulyono menghimbau agar dinas terkait, Dinas Pengelolaan Pendapatan Dan Aset (DPPA) bisa menelorkan sebuah inovasi manajerial pasar tradisional. Salah satu contoh, dengan menggelar semacam pameran produk diluar komoditas pasar di lokasi pasar tradisional. “Bisa saja dengan menggelar pameran di pasar Minulyo. Warga yang datang melihat tentu nanti akan sekalian berbelanja di pasar,” harapnya.

Senada, Kepala Kantor Pelayanan Perijinan Sar Setyo Utomo mengatakan, pihaknya tidak bisa menghalangi seseorang untuk membuka usaha. Meski demikian, kajian terhadap besarnya imbas sosial ekonomi di masyarakat harus melibatkan semua pihak, baik dari birokrasi maupun pelaku pasar. “Termasuk jam buka dan tutup. Nanti kita carikan referensi,” katanya.

Saat ini, ada dua grup usaha waralaba dan minimarket besar yang sudah mengajukan izin dan sudah beroperasi. Sehingga, untuk mencabut kembali izin, harus ada landasan hukumnya. (jbc15/jbc2)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*