Warga Mengeluh Bau, Peternakan Ayam Dirazia

\"\"GROBOGAN(Jurnalberita.com) – Belasan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Polres Grobogan menindak usaha ternak ayam potong tanpa izin di Dusun Ketanggan, Desa Katong, Kecamatan Toroh. Selain karena tidak memiliki izin, keberadaan kandang ternak ayam milik Mulyono (45) yang berada di dekat pemukiman tersebut dikeluhkan warga sekitar.

“Warga sekitar kandang ayam merasa terganggu dengan bau dan lalat yang ditimbulkan dari kandang tersebut. Jaraknya terlalu dekat dengan pemukiman dan sekolah. Itu yang menjadi keluhan warga,” kata Supriyono, Kades Katong, Kecamatan Toroh.

Kaur Bin Ops Satuan Sabhara Polres Grobogan, Ipda Samidjan yang datang di lokasi membenarkan, bahwa usaha ternak ayam milik Mulyono belum berizin. Mengenai keluhan dan laporan warga, ia meminta Mulyono segera memindahkan lokasi kandang ayam miliknya di tempat yang lebih jauh dari pemukiman, sekaligus mengurus izin ke dinas terkait.

“Sebenarnya bisa langsung kami bongkar karena tidak berizin dan berpotensi menimbulkan tindakan anarkis warga. Namun, kami menawarkan solusi berupa pemindahan kandang tersebut di lokasi baru, yang tentu saja harus dilengkapi izin. Sesuai keterangan dari pemilik kandang, dia bersedia,” tegas Samidjan.

Sementara itu Kepala Sat POL PP Grobogan  Daru Wisakti melalui, Surat Pernyataan Kasi Trantib Satpol PP Grobogan Warso menuturkan, bahwa sebelum dilakukan penindakan, Satpol PP sudah memberikan teguran dan peringatan supaya kandang ayam itu tidak lagi difungsikan. Karena dianggap membandel, akhirnya petugas melakukan penindakan tegas.

“Setelah kami cek hari ini ternyata kandang dalam keadaan kosong. Menurut keterangan pemiliknya, sekitar lima ribu ekor ayamnya  sudah dipanen sehari sebeumnya,” kata Warso.

Pemilik peternakan ayam, Mulyono (45) didampingi Asraf (52), kakaknya, mengaku masih akan mengkaji permintaan petugas. Hal itu dikarenakan, ia sudah membuat surat pernyataan siap menanggung segala akibat atau risiko atas pendirian kandang berukuran 8 x 66 meter yang dibangun akhir Tahun 2010  itu.

“Surat pernyataan tidak keberatan, yang ditandatangani pemilik lahan sekitar kandang pun saya juga punya. Bahkan ada  pula surat dari Kepala Desa. Karena panen dini, saya harus merugi sekitar Rp 45 juta, padahal baru dua kali panen. Sekarang, saya masih bingung harus berupaya apa, mengingat itulah satu-satunya usaha yang saya tekuni,” jelas Mulyono. (jbc13/jbc2)

Tags: ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*