Bocah Tanpa Tangan, Raih Prestasi Menggambar Dengan Kedua Kakinya

Zainuri menunjukan hasil menggambarnya pada wartawan jurnalberita. (foto:jbc11/jbc)

TUBAN (jurnalberita.com) – Hidup tanpa kedua tangan bukanlah hal yang mudah, apalagi hingga mampu untuk meraih prestasi. Karena aktifitas yang bisa dilakukan hanya mengandalkan kedua kakinya. Hal inilah yang membuatnya perlu bimbingan moral dan dorongan semangat, agar orang cacat tidak dipandang sebelah mata.

Begitupun yang dialami oleh Zainuri (7), anak Dusun Boro, Desa Banjararum Kecamatan Rengel ini. Bocah yang lahir pada 1 januari 2005 itu, terlahir cacat tanpa kedua tangannya.

Dalam aktifitas sehari-hari yang dilakukannya – anak yang perlu sentuhan dari berbagai pihak ini – hanya mengandalkan kedua kakinya saja. Bukan hanya di situ, saat bocah ini baru berumur 3 tahun, sudah ditinggal oleh ayahnya, Suhudi (35) karena dipanggil oleh sang khaliq. Kini anak ini hidup bersama ibunya, Kasniti (32), Kasniti, yang dengan segala upayanya merawat agar anaknya kelak tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat, bersama kakeknya, Lasto (55) yang sehari-hari bekerja menjadi tukang batu.

Ternyata usaha yang dilakukan keluarga yang hidup dengan kesedehanaan ini, membuahkan hasil. Di sekolahnya (TK), Zainuri termasuk anak yang paling pintar. Terbukti dari nilai pelajaran yang selalu baik.

Zainuri nampak asyik saat menggambar. (foto:jbc11/jbc)

Dalam pelajaran sekolah, bocah yang baru kelas TK A ini, mampu meraih prestasi terbaik di sekolahnya. Prestasi ini diraihnya dalam mata pelajaran menggambar. Meski hanya menggunakan kedua kakinya, Zainuri mampu menggambar dengan baik dan cepat. Bukan hanya di situ, dalam pelajaran yang diajarkan oleh guru, nilainya selalu menunjukkan angka A.

Ketika ditanya jurnalberita.com terkait kesulitan menggambar dengan kedua kakinya, Zainuri menjawab, “Mudah om”, sambil mengacungkan jempol kaki kanannya, yang menunjukan dia bangga.

“Cucu saya sebenarnya sangat pintar, dia bisa melukis dengan kedua kakinya. Namun karena keterbatasan ekonomi, prestasi yang ditunjukkan belum bisa maksimal. Maklum, karena kami hanya tukang batu saja,” ujarnya haru, ketika melihat cucunya sedang bermain dengan temannya.

Untuk berangkat sekolah, anak yang bercita-cita ingin jadi pelukis terkenal itu, setiap harinya diantarkan oleh neneknya, Sunti (58).

Lasto hanya bisa berharap ada dermawan yang memperhatikan prestasi cucunya. (jbc11/jbc1)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site