Tiga Polisi ‘Nakal’ Kediri Dipecat

KEDIRI (jurnalberita.com) – Dalam sidang kode etik di Markas Polres Kediri, Rabu (25/5/11), sebanyak tiga anggota Kepolisian Resor (Polres) Kediri, dikenai Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) atau dipecat.

Kepala Sub Bagian Hubungan Masyarakat Polres Kediri, AKP Mansyur, mengatakan sidang itu dilakukan untuk memberi efek jera bagi anggota, karena ketiganya telah berlaku tidak disiplin dan terlibat pidana.

Dikatakan AKP Mansyur, sidang itu dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Polres Kediri, Kompol Muhammad sebagai Ketua komisi etik dengan didampingi Sekretaris Komisi yang juga Kasi Propam Polres Kediri, Iptu Hari Suwarno dan Wakil Ketua Komisi yang juga Kabagsumda, Kompol Natalius Nugroho.

Ia menyebutkan, ketiga anggota Polres Kediri yang menjalani sidang kode etik itu merupakan warga Kab Kediri. Mereka antara lain Bripda Totok Purnomo yang merupakan anggota Polsek Banyakan, warga Desa Jabon, Kecamatan Banyakan; Briptu Amin Tohari anggota Satreskoba Polres Kediri, warga perum Jenggolo Indah, Desa Paron, Kecamatan Ngasem; dan Brigadir Andi Marianto yang merupakan anggota Satsabhara Polres Kediri.

Menurut Mansyur, Bripda Totok Purnomo merupakan anggota polisi pindahan dari Polres Semarang. Ia didakwa telah melanggar disiplin karena meninggalkan tugas sebagai anggota polisi selama 63 hari berturut-turut sejak menjadi anggota Polsek Banyakan.

Sementara itu, Briptu Amin Tohari terlibat kasus kepemilikan narkotika jenis ganja, dobel L, dan leksotan. Anggota polisi yang sebelumnya bertugas di Satuan Narkoba Polres Kediri itu telah menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kab Kediri dan sudah dijatuhi vonis hukuman 4,4 tahun penjara.

Hal yang sama juga terjadi pada Brigadir Andi Marianto yang juga terlibat kasus kepemilikan narkotika di Polres Malang. Polisi yang sebelumnya bertugas menjadi anggota Sat Shabara Polres Kediri ini oleh PN Malang dijatuhi vonis lima tahun penjara.

Sidang kode etik yang berlangsung di Markas Polres Kediri itu sempat diwarnai ketegangan. Brigadir Andi Marianto sempat mengajukan protes karena hanya dirinya yang dihukum. Ia juga menyesalkan, hingga kini Satreskoba Polres Malang ternyata belum menangkap bandarnya. “Bandarnya kan sudah jelas kenapa tidak ditangkap dan diproses,” protes Andi.

Namun, upaya protes itu tidak ditanggapi pimpinan sidang kode etik. Ketua Komisi sidang kode etik mengaku tidak dapat terlibat lebih jauh untuk masalah itu, karena kasus itu ditangani Polres Malang, sehingga warga sipil menjadi urusan Polres setempat.

Mansyur juga menegaskan, polisi tetap bertindak tegas jika ada anggotanya yang terlibat pidana. Pihaknya tidak akan menutupi-nutupi kasus itu, dan tidak segan-segan memberi sanksi berupa pemecatan tidak hormat, seperti yang sudah dilakukan selama ini. (hbc/jbc1)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site