Tikus dan Kecoak Berkeliaran di Ruang Obat RSUD dr Soewandhie

Komisi D DPRD: Lebih Layak Jadi Puskesmas

Komisi D DPRD Surabaya saat sidak di RSUD dr Soewandhie. (foto:ist)

SURABAYA (jurnalberita.com) – Sudah selayaknya Rumah Sakit identik dengan kebersihan dan steril dari kuman yang disebabkan oleh hewan dan serangga. Namun tidak demikian dengan yang terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Soewandhie di Jalan Tambakrejo ini. Di ruang penyimpanan obat-obatan atau farmasi di RSUD dr Soewandhie masih ditemukan sejumlah binatang, termasuk tikus dan kecoak.

Fenomena tersebut terungkap dalam hearing antara jajaran direksi RSUD dr Soewandhie dengan Komisi D DPRD Surabaya, Selasa (3/5/2011).

Masduki Toha dari Anggota Komisi D menegaskan, kondisi gudang penyimpanan obat tidak layak. Tikus akan terus bermunculan karena di lokasi tersebut masih terdapat selokan. “Obat yang kedaluwarsanya lama bisa lebih cepat rusak,” tuturnya.

Tak kalah pedas kritikan yang dilontarkan Wakil Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Eddie Budi Prabowo. Ia menyebut, RSUD dr Soewandhie sudah melanggar UU no 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan UU no 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, yang menjelaskan kalau penyimpanan obat harus steril. Izin RSUD dr Soewandhie juga bisa dicabut bila tidak memenuhi persyaratan.

“Bukan tidak mungkin rumah sakit bisa turun kelas menjadi puskesmas. Kalau tidak mau menjalankan UU, bahkan rumah sakit bisa ditutup,” tegasnya.

Resti Utami, penanggung jawab gudang obat RSUD dr Soewandhie, enggan mengakui keberadaan tikus di lokasi gudang penyimpanan obat. Ia justru menjelaskan, kalau banyak pipa-pipa bocor yang melalui ruangan penyimpanan obat.

“Mungkin dari pipa itulah tikus bisa masuk. Tapi bisa dipastikan tidak ada racun tikus. Dulu pernah diusulkan tapi tidak jadi karena dilarang,” elaknya.

Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) RSUD dr Soewandhie, Didiek Riyadi justru blak-blakan kalau banyak tikus di rumah sakit milik Pemkot Surabaya ini. “Memang tikusnya banyak. CCTV sering mati, setelah dicek ternyata kabelnya digigit tikus,” kata Didiek.

Bahkan, lanjut Didiek, tak hanya tikus yang berkeliaran di area rumah sakit, tapi juga kecoak maupun kucing berkeliaran di rumah sakit. “Kucing banyak, tikusnya juga banyak,” tuturnya.

Sementara terkait permintaan Komisi D terkait data pemusnahan obat kadaluwarsa, Didiek dalam hearing mengaku, tak bisa menunjukkan data-data tersebut. Termasuk faktur pembelian obat, distribusi obat, bukti audio visual pemusnahan obat dan berita acara pemusnahan obat kadaluwarsa. Dengan alasan, data yang diminta anggota dewan tersebut adalah data dibawah tahun 2010.

“Kami meminta waktu untuk mengumpulkan data. Paling tidak sampai proses pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berakhir pada 13 Mei mendatang,” katanya.

Sedangkan temuan anggota dewan terkait pemberian fee dari perusahaan farmasi, Didiek enggan berkomentar karena takut salah. “Saya ingin situasinya semakin kondusif,” kilah Didiek.

Ketua Komisi D DPRD Surabaya, Baktiono mengatakan, kalau proses pelayanan RSUD dr Soewandhie tidak beres. Bukan hanya soal data, pelayanan pasien juga terkesan tidak seperti layaknya rumah sakit. Kalau seperti ini terus, kata Baktiono, pihaknya akan merekomendasikan status RSUD dr Soewandhie menjadi puskesmas.

“Rumah sakit ini (Soewandhie) tidak layak jadi rumah sakit pemerintah, karena kondisinya jauh dari standar. Makanya lebih baik jadi puskesmas saja,” pungkasnya. (dmc/jbc1)

 

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site