GM FKPPI Jawa Timur Gugat ‘Perusak Sistematik’ Pancasila dan UUD 1945

Didik Prasetiyono (tengah) saat berorasi. (foto:jbc5/jbc)

SURABAYA (jurnalberita.com) – Negara Indonesia ini sebenarnya masuk gejala ‘ambruk’, ketika Pancasila dan UUD 1945 diacak-acak oleh sekelompok elit, demi kepentingan sesaat. Melihat realita sosial itulah, Generasi Muda FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI Polri) berang dan tersentak dari situasi nasional yang seakan dibiarkan demikian.

“Kami mencetuskan petisi keprihatinan yang sangat mendalam terhadap pelunturan dan perusakan sistematik ideologi negara Pancasila dan UUD 1945,” ucap sekitar 60 pemuda GM FKPPI Jatim, secara tegas dan serempak yang berdemo di depan Gedung DPRD Jatim, seusai diterima Heri Prasetyo (fraksi PD), Bambang Harjanto (fraksi PDI-P) dan Agus Maimun (fraksi PAN).

Didik Prasetiyono, juru bicara pendemo yang juga sekretaris GM FKPPI Jatim ini, menyatakan sikap keprihatinan bukan bersifat moralis saja. “Tetapi kami benar-benar mendaulat dan menggugat kepada para petinggi NKRI, untuk segera mengembalikan nilai-nilai dan spirit Pancasila maupun UUD 1945 sebagaimana mestinya,” tandas Didik berapi-api di tengah para anggotanya yang berseragam doreng FKPPI.

Menurut Didik, yang mantan petinggi KPU Jatim ini, FKPPI akan melawan ancaman model apapun terhadap 4 pilar Demokrasi dan Kebangsaan Indonesia, diantaranya Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. “Dan satu hal paling mencolok serta krusial, adalah adanya perilaku nyata dalam bentuk negara dalam negara yang ditandai oleh sepak terjang NII. Republik Indonesia ini menolak keras Negara Islam Indonesia, ada maksud dan permainan apa sebenarnya,” lontar Didik yang akrab dipanggil Dikdonk.

Peran FKPPI dan PPM (Pemuda Panca Marga) di era rejim Orde Baru memang tampak warnanya, dan sebagai penjaga gawang kebudayaan sangat dibanggakan. Namun sayang, ketika ‘game of reformation’ digelindingkan, ormas pemudanya TNI-Polri yang biasanya terdepan dalam peran politik dan sosialnya militer ini terkesan ‘tiarap dan tenggelam’ dilanda situasi.

“Peran kepemudaan apapun di awal masa reformasi yang tiarap itu, sekarang tidak perlu lagi. Semua elemen sosial dan pemuda diharapkan segera ikut menata kembali ‘national building’,” celetuk Chusnun Mar’yah, mantan srikandi KPU Pusat tahun 2004, di depan kader partai Golkar Jatim, belum lama ini.

Kini, tepat 1 Juni 2011, dalam peringatan Hari Lahirnya Pancasila, GM FKPPI Jatim menandai sejarah kebangkitannya, dengan mencetuskan 5 Petisi Keprihatinan atas lunturnya nilai-nilai Pancasila. Antara lain, mendesak semua pihak tidak lagi memperdebatkan Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. 4 pilar dasar tata negara itu sebagai konsesus nasional bersifat final dan selesai. Kedua, meminta DPR-RI merevisi UU No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan memasukkan Pancasila dan Sejarah Bangsa dalam kurikulum pendidikan. Ketiga mengecam keras NII dan meminta TNI-Polri bertindak tegas, jika masih ada pihak yang mengancam NKRI dan memperdebatkan 4 Pilar Bangsa yang final itu, akan berhadapan dengan kekuatan nasionalis, khususnya GM FKPPI Jatim.

“Kami pun meminta kepada pemimpin bangsa, agar memberikan tauladan dan berhenti memusuhi Pancasila. Yang selama ini menunjukkan perilaku korupsi dan bergaya hidup mewah itu,”pungkas sekretaris alumni GMNI (Generasi Muda Nasionalis Indonesia) Jatim itu. (jbc5/jbc1)

 

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site