Menteri Kehutanan: Hutan Rakyat Jadi Perhatian Serius Pemerintah

Menhut, Zulkifli Hasan didampingi Bupati Indartato melihat hutan rakyat di wilayah desa Belah, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan. (foto:jbc15/jbc)

PACITAN (jurnalberita.com) – Pengembangan hutan rakyat di lahan kritis dan upaya mencegah kerusakan hutan menjadi perhatian serius pemerintah. Hal itu terungkap saat Menteri Kehutanan, Zulkifli Hasan mengunjungi wilayah hutan rakyat di desa Belah, kecamatan Donorojo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, Jumat (10/6/2011).

Menteri Kehutanan mengakui, selain melalui gerakan penghijauan di dalam negeri, Pemerintah Indonesia juga berupaya menghambat pengiriman kayu secara serampangan ke luar negeri. Hal ini dilakukan dengan menggandeng sejumlah negara pengimpor kayu tropis, agar hanya menerima kayu dengan dokumen lengkap.

“Pemerintah telah bekerjasama dengan beberapa negara bagian, Benua Eropa maupun Amerika. Meski begitu, setidaknya masih ada 3 hingga 4 negara lain yang hingga saat ini belum menandatangani kesepakatan tersebut,” tukas Menhut.

Menteri Zulkifli Hasan mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir kasus deforestasi di Indonesia menunjukkan penurunan signifikan. Data PBB mencatat, penebangan hutan pertahunnya hanya sekitar 700 ribu hektar atau 0,7 persen dari total lahan. Hal itu disebabkan adanya konversi wilayah, perluasan pemukiman maupun pertumbuhan penduduk. Sedangkan penanaman hutan, mencapai 1 juta hektar per tahun.

“Ke depan, program penghijauan akan difokuskan pada pengadaan bibit. Tahun ini, pemerintah akan membangun 10 ribu Kebun Bibit Rakyat (KBR). Jumlah itu akan ditingkatkan lagi menjadi 15 ribu KBR, untuk tahun berikutnya,” tandasnya.

Dalam kunjungan kerja ke kabupaten yang 70 persen merupakan hutan rakyat ini, Menhut pun langsung mengabulkan permohonan bantuan ternak sapi dan kambing bagi petani hutan. Lahan Donorojo yang sebagian berkontur batu cadas membuat tanaman tidak mudah tumbuh. Dalam kesempatan itu pula diserahkan ribuan bibit tanaman keras berbagai jenis serta bantuan KBR pada kelompok tani setempat dengan total nilai Rp 2,5 miliar.

Menhut mengakui, masyarakat memiliki budaya menanam pohon yang tinggi, sehingga sumber air terjaga dan cukup untuk mengairi persawahan yang tidak terlalu luas. Menhut yang didampingi Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Perhutanan Sosial Kemhut, Harry Santoso dan Bupati Pacitan, Indartato sempat berkeliling perkampungan warga menyaksikan pepohonan tumbuh subur di hutan rakyat.

Seusai menikmati makanan ringan berbahan baku singkong dan jagung, Menhut spontan masuk ke kawasan hutan rakyat untuk melihat tanaman masyarakat. Masyarakat Donorojo menanam pohon mahoni, bambu, dan jati. Ketiga jenis tanaman tersebut memiliki nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan saat mereka membutuhkan biaya, misalnya, menyekolahkan anak, hajatan atau menunaikan ibadah haji. Hutan rakyat Desa Belah mencapai luas 350 hektar yang dikelola oleh 10 kelompok petani hutan. Sebagian besar tanaman sudah berusia di atas 5 tahun.

“Kalau sudah menanam pohon swadaya begini, kami harus membantu perawatannya. Kami akan bantu Rp 5 juta per hektar, supaya masyarakat di sini lebih bersemangat menanam pohon,” ujar Menhut.

Sementara itu, Bupati Pacitan Indartato menjelaskan, wilayah Kabupaten Pacitan seluas 1.389 kilometer persegi memiliki kontur 85 persen pegunungan dan perbukitan. Dari luas tersebut, 58 persen hutan dengan 97 persen berstatus hutan rakyat. “Masyarakat tidak perlu disuruh lagi menanam, karena mereka sudah paham nilai ekonominya,” ujar Indartato. (jbc15/jbc1)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site