Misri, Pembatik Lumpuh Yang Luput Dari Perhatian

\"\"

TUBAN (Jurnalberita.com) – Misri (35), salah satu potret pekerja keras tanpa mengenal hambatan dan keterbatasan.  Warga Dusun Simbatan Desa Jarorejo Kecamatan Kerek Tuban, ini adalah seorang pembatik terbaik yang harus melakoni kehidupan sekaligus menjalani profesi dengan keterbatasan fisik yang dideritanya.

Ia pun tak pernah menikmati, bahkan mengenakan hasil dan karya terbaik yang dihasilkannya. Sejak berumur 15 tahun hingga saat ini, ia rajin dan terus menghasilkan karyanya, dengan kondisi kaki yang lumpuh. Hal itu harus ia jalani hampir 20 tahun karena kondisi ekonomi keluarganya. Walaupun kondisi tubuhnya tak sebaik dan senormal orang pada umumnya, namun dengan kemampuannya membatik, ia menjadi tulang punggung keluarga untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Saat ini, ia hidup dan tinggal bersama sang ayah, Tasman (80), di sebuah rumah yang sangat kecil, dengan ukuran 2,5 M  x 5M, berdindingkan anyaman bambu (sesek, red) dan kayu  yang sudah sangat rapuh.

Meski tinggal di rumah yang sangat tidak layak huni, Misri tetap  tegar dalam menjalani kehidupannya. Hasil yang didapatnya dari bekerja sebagai pembatik, tak akan cukup untuk membangun sebuah rumah yang layak huni. Untuk biaya makan sehari – hari, hasil dari membatik belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama orang tua semata wayangnya.

Setiap menghasilkan sebuah kain batik, Ia memperoleh keuntungan sekitar 15 – 25 ribu, padahal waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan sebuah kain atau baju batik, membutuhkan waktu hingga 2 hari.

Bahan dan peralatan yang selama ini ia gunakan untuk menghasilkan batiknya, ia harus meminjam atau cash bon pada salah satu pengusaha batik terkenal HM Sholeh. Bila pekerjaan membatik sudah menghasilkan kain, hasilnya langsung dipotong untuk membayar segala keperluan yang sebelumnya ia pinjam.

Pada suatu ketika, menurut Misri, hasil batikanya pernah mendapatkan juara Internasional pada saat pameran batik di Jakarta. “Dulu, jaman Pak Suharto, hasil batik saya pernah mendapatkan hasil terbaik pada waktu pameran. Tapi saya hanya diberitahu saja oleh juragan ,” tuturnya.

Misri, yang menghasilkan batik hingga menjadi juara, tak tahu dan merasakan langsung penghargaan atau piala, lantaran semuanya bukan dirinya yang menerima, melainkan sang juragan, diman ia bekerja.

Bahkan, saat ditemui wartawan jurnalberita, ia memamerkan hasil karyanya, yang konon pemesannya adalah Bupati Tuban. Ia tak mengetahui langsung apakah benar pemesannya adalah orang nomor satu di Kabupaten Tuban. Ia hanya mengathui kabar tersebut dari salah seorang teman kerjanya, bukan dari sang juragan.

“Saya pernah dapat pesanan dari bos saya untuk membuat batik yang paling bagus. Menurut teman saya, itu yang pesan Bupati Tuban,” ujarnya sembari memainkan kelincahan tangannya menggambar pola diatas selembar kain.

Saat ditanya harga batik yang dia jual ke juraganya, Ia pun dengan polos menjawab bila kain batik yang dihasilkannya ia jual dengan harga Rp.200 Ribu. “Karena kainnya yang mahal, itupun saya paling cuma dapat untung hasil membatiknya saja, 15 sampai 25 ribu perpotong baju,” ungkapnya.

Sayangnya, kemampuan dan keterbatasan Misri dalam hal permodalan untuk menghasilkan karya batiknya, bahkan hingga mampu meraih penghargaan dalam pameran batik, belum sedikitpun dilirik dan mendapat bantuan serta perhatian, baik dari pemerintah maupun pihak swasta.

Padahal, negara ini sudah ‘memproklamirkan’ diri bila batik merupakan kain sekaligus busana nasional. “Sampai sekarang, saya belum pernah dapat bantuan darimanapun, baik dari pemerintah maupun perusahaan walaupun ada pabrik yang dekat sini,” ujarnya polos.

Misri hanya berharap, ada pihak yang peduli dan mau memberikan serta mengulurkan bantuan permodalan untuk dirinya. Selain untuk menghasilkan karya dari keahlian membatik yang dimilikinya, sekaligus untuk memperbaki kehidupannya dan sang ayah. (jbc11/jbc2)

Tags: , , ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

2 Responses

  1. saya sangat salut dengan ketegaran dan kemapuan Misri,
    bisa kah saya mendapatkan alamat atau menghubungi nya?

  2. dengan semangat misri membatik meski dia lumpuh, saya salut dengan hasil karyanya.. tetap SEMANGAT Misri!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*