Buntut Penganiayaan, Warga Desa Lain Ikut Demo

TUBAN (jurnalberita.com) – Efek perlakuan kasar satuan pengamanan PT UTSG beberapa hari lalu, akhirnya benar-benar terjadi. Akibat belum adanya penyelesaian secara tuntas masalah penganiayaan terhadap remaja warga Desa Karanglo Kecamatan Merakurak pemungut kabel bekas di sekitar lokasi penambangan, diduga menjadi pemicu sejumlah warga dari desa lainnya ikut melakukan demo.

\"\"

Tak hanya meminta pertanggungjawaban atas insiden penganiayaan, warga desa sekitar juga meminta agar dipekerjakan di pabrik. Mereka beralasan, bila yang mereka kerjakan dengan mencari kabel bekas di lokasi sekitar penambangan, akibat dari tidak tersedianya lahan pekerjaan bagi warga desa.

Hari Kamis (14/07/11), pertama kali aksi demo dilakukan warga Desa Sugihan, Kecamatan Merakurak. Belasan warga mendatangi pintu masuk areal produksi atau pabrik untuk menuntut dipekerjakan. Mereka menilai, keberadaan perusahaan milik negara ini, belum dapat memberikan manfaat dan kesejahteraan bagi warga desa.

“Kami menuntut dipekerjakan. Katanya dulu warga sekitar ring I akan dipekerjakan, tapi apa buktinya, sampai sekarang banyak pemuda yang menganggur,” kata salah seorang pendemo.

Para pemuda desa ini datang dengan menggunakan mobil pick up dan membawa sejumlah poster berisi hujatan kepada perusahaan. Saat perwakilan warga sedang melakukan musyawarah dengan perwakilan perusahaan, gelombang massa dari Desa Karanglo Kecamatan Kerek menggelar aksi di tempat terpisah.

Puluhan warga desa melakukan aksinya melalui bagian belakang areal tambang dan memaksa operator alat berat di lokasi tambang menghentian aktifitas dan pekerjaannya. Kedatangan warga ini luput dari pantauan aparat keamanan PT. UTSG maupun polisi yang sedang berjaga.

Usai menghentikan paksa aktifitas di lokasi tambang, warga yang terdiri dari pemuda, orang dewasa, hingga ibu-ibu, melanjutkan aksinya menuju kantor PT. UTSG yang berada di Desa Sumberarum, Kecamatan Kerek.

Aparat kepolisian yang sudah siaga didepan pintu masuk menghadang warga untuk melakukan negoisasi di pelataran kantor perusahaan. “Keberadaan perusahaan untuk mensejahterakan rakyat, kalau kami sudah kaya ngapain harus mencari kabel bekas ledakan,” ungkap Nurhadi, koordinator aksi.

Selain itu, warga meminta oknum keamanan yang diduga telah melakukan penganiayaan kepada kedua remaja warga desa dihadirkan dan meminta maaf. Dalam pertemuan antara warga dengan pihak manajemen PT.UTSG, yang diwakili Marsudi (Kasi Bina Lingkungan), Prapno (bagian peledakan) menghasilkan putusan korban akan diberi santunan masing-masing Rp. 1,5 juta, sedangkan para oknum petugas keamanan yang diduga telah melakukan penganiayaan akan berkunjung ke rumah korban besok (hari ini – red)  jam 09.00 WIB, untuk meminta maaf.

Selain itu, juga terjadi kesepakatan para pemungut kabel bekas peledakan dilarang mengambil jika belum dinyatakan aman oleh juru ledak dan dilarang mengeluarkan kata kotor kepada karyawan atau petugas keamanan yang sedang bertugas.

Kasi Bina Lingkungan, PT UTSG, Marsudi menjelaskan bahwa pihaknya akan menerima masukan warga selama tidak melanggar dengan aturan yang berlaku. “Kesepakatan sudah kita buat, dan kalau menurut aturan memang tidak boleh. Tapi kalau warga membutuhkan harus diatur dengan baik,” ungkapnya. (jbc11/jbc2)

Tags: , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*