Kasus Bunuh Diri di Pacitan Meningkat

\"\"PACITAN (jurnalberita.com) – Dalam dua tahun terakhir, angka bunuh diri di kalangan warga Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) meningkat.

Warga memilih mengakhiri hidupnya karena berbagai sebab. Selain karena sakit menahun, bunuh diri juga dilatarbelakangi masalah-masalah pribadi. Fenomena itu sendiri dianggap sebagai pertanda bergesernya karakter masyarakat. Dari komunal ke perkotaan.

“Kasus bunuh diri memang meningkat,” ujar Kepala Satuan Reserse Dan Kriminal (Kasatreskrim) Polres Pacitan, AKP Sukimin, Jum’at (1/7).

Kasus paling akhir menimpa Misgiman, warga Desa Temon, Kecamatan Arjosari. Pria paruh baya ini tewas bunuh diri karena menderita penyakit mata yang tak kunjung sembuh. Berdasarkan catatan Polres Pacitan, dari Bulan Januari-Juni tahun 2011 terjadi lima kasus bunuh diri. Jumlah itu diperkirakan masih akan terus bertambah hingga akhir tahun nanti. Setahun sebelumnya, tahun 2010, angka bunuh diri mencapai 16 kasus. Naik dari tahun 2009 sebanyak 13 kasus.

Meski jumlah kasusnya hanya belasan, namun peristiwa bunuh diri di Kota 1001 Goa ini dinilai cukup tinggi. Karena sebagai sebuah kota kecil, kondisi permasalahan sosial masyarakatnya tidak serumit di kota-kota besar. Sehingga dapat dikatakan coraknya masih homogen.

Menurut Sosiolog dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Sugeng Bayu Wahyono ketika dihubungi melalui telpon mengatakan, keputusan mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri dapat dipandang sebagai munculnya gejala pergeseran karakter masyarakat. Dari tipe komunal tradisional ke urban. Pendapat itu sendiri didasari oleh sebuah penelitian tentang bunuh diri oleh sosiolog Emile Durkheim. Di mana dalam pandangan tokoh kelahiran Prancis tersebut masyarakat yang punya ikatan emosional tinggi, lebih rendah tingkat bunuh dirinya.

“Artinya, masyarakat pedesaan itu lebih rendah (kasus bunuh diri, red) daripada masyarakat perkotaan. Kalau dalam pandangan (Emile) Durkheim,” katanya.

Penetrasi teknologi dimasyarakat juga menjadi faktor pemicu merenggangnya ikatan emosional warga. Salah satu contohnya, kepemilikan televisi pada hampir semua keluarga. Padahal ketika televisi belum menjamur seperti sekarang, warga biasa bertemu dan bertukar pikiran di lokasi-lokasi umum tertentu yang menyediakan media audio visual ini. Akibatnya, mereka kemudian menjadi individu yang impersonal atau kurang pergaulan sosial. Sehingga ketika ada masalah mereka tidak punya kesempatan untuk berbagi.

Dosen pasca sarjana Universitas Gadjah Mada ini memaparkan, salah satu upaya yang bisa dilakukan guna menekan angka bunuh diri di masyarakat adalah dengan kembali mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal. Misalnya di masyarakat Jawa dengan memberikan pengertian bahwa perbuatan bunuh diri merupakan aib dan hanya usaha menghindari masalah.

“Bunuh diri dianggap sebagai stigma sosial. Sehingga harus diberi penjelasan bahwa jalan keluar selalu ada. Altruisme (perasaan ingin berkorban) dan asketisme bisa mengatasi keputusasaan. Dan itu bisa sumbernya ada dinilai local wisdom,” terangnya. (jbc15/jbc1)

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*