BNPB dan Gubernur Bantu Tandon, Jerigen dan Air

GRESIK (jurnalberita.com) – Prihatin dengan kekeringan yang melanda sebagian besar wilayah di Kabupaten Gresik, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Gubernur Jawa Timur memberikan bantuan air bersih, tandon air dan jerigen. Bantuan tersebut telah mulai dikirim ke desa-desa terdampak kekeringan sejak sejak Sabtu kemarin.

Beberapa desa yang mendapat bantuan antara lain, Desa Munggugianti dan Desa Metatu, keduanya di Kecamatan Benjeng. Masing-masing desa menerima bantuan berupa 2 unit tandon air dan 10 jerigen. Tandon-tandon berkapasitas 2000 liter tersebut akan ditempatkan di beberapa lokasi tempat di desa tersebut sesuai kondisi masyarakat setempat.

Selain air, masyarakat di desa yang dlanda kekeringan juga membutuhkan tandon agar mereka tak kesulitan mengantri untuk mendapatkan air bersih. (foto : humas)

“Bantuan tandon ini masih dalam proses, mungkin 2 hari kedepan sudah dikirim,” ujar Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Gresik, Ir. Hari Sucipto melalui Kabag Humas, Andhy Hendro Wijaya, Minggu (25/9/11).

Sedangkan bantuan air yang diberikan BNPB dan Gubernur Jatim senilai Rp. 5,5 juta, akan diberikan ke masyarakat desa terdampak kemarau panjang sebagai tambahan droping air yang telah dialokasikan Pemkab Gresik. “Dalam minggu ini, air terdistribusi terhitung sejak Sabtu kemarin,” ujar Hari.

Disela pemantauan bantuan, Kepala Bidang Kedaruratan Logistik, Iwan Lukito menambahkan, beberapa kecamatan telah berkoordinasi dengan pihaknya untuk merevisi laporan desa terdampak kekeringan. “Misalnya Kecamatan Benjeng yang meminta tambahan droping air untuk 11 desa lain, selain 12 desa yang sudah dilaporkan. Saat ini, kami menunggu laporan resmi dari kecamatan terdampak, barangkali ada revisi dari laporan sebelumnya. Kemudian kami memetakan kembali wilayah kekeringan dan serta bantuan yang akan dialokasikan,” ujar Iwan melalui Humas.

Kabar adanya bantuan tandon membuat senang masyarakat di desa yang akan menerima bantuan. “Kalo ada tandon, saya gak akan antri seperti ini. Juga dengan pembagian air seperti ini banyak yang tumpah, karena selang dari tangki terlalu besar kalo dimasukkan ke jerigen,” ujar Tohir (25) warga Desa Metatu Benjeng disela mengantri air dari truk tangki.

Hal senada disampaikan Mbah Mila (63), perempuan renta ini terlihat kepayahan dan capek lantaran harus mengantri air dengan kondisi sengatan sinar matahari yang cukup panas. Namun, mau tak mau ia dan keluarganya harus mengantri air karena air telaga yang selama ini dimanfaatkan untuk keperluannya telah kering. “Andai ada tandon, bisa ambil air saat pagi atau sore, dan bisa lebih enak,” ujarnya lirih. (jbc6/sdm)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site