Harga Minyak Cengkih Anjlok, Industri Merugi

\"\"

PACITAN (jurnalberita.com) - Anjloknya harga minyak cengkih di pasaran membuat para pemilik industri penyulingan di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim) merugi. Untuk menghindari kerugian lebih besar, kini mereka memilih tidak menjual minyak cengkih dan menunggu sampai kondisi pasar membaik.

“Harganya turun drastis. Sampai 50 persen lebih,” kata Marwan, salah seorang pelaku usaha penyulingan minyak cengkih di Desa Losari, Kecamatan Tulakan.

Jika sekitar dua bulan lalu harga minyak berada di kisaran nilai Rp 125 ribu per kilo, sekarang hanya Rp 50 ribu. Penurunan harga yang cukup signifikan ini tentu membuat pelaku usaha kelabakan. Pasalnya, jika dihitung dengan ongkos produksi, nilai jual sebesar itu tak akan cukup untuk menutupi biaya operasional.

Dia menuturkan, untuk membeli daun cengkih kering sebagai bahan baku, per kilogramnya harus ditebus Rp 3.000. Padahal saat membeli bahan baku asumsinya harga jual minyak cengkih masih seperti semula. “Tetapi karena turun, kita tekor,” keluhnya.

Perubahan harga tersebut juga berimbas pada keuntungan yang mereka peroleh. Sebelum harga anjlok Marwan mengaku mampu meraup keuntungan bersih hingga lebih dari Rp 600 ribu sekali berproduksi. Gambarannya, tiap satu kali berproduksi menghabiskan 25 kilogram bahan baku. Dengan bahan sebanyak itu, akan menghasilkan 20 kilogram minyak cengkih.

Sehingga ketika dijual total laku Rp 3.125.000. Selanjutnya hasil penjualan akan dikurangi biaya operasional Rp 2,5 juta. Untuk menghindari kerugian lebih besar Marwan dan sejumlah pengusaha lainnya tidak menjual produksinya. Harapannya, upaya menahan produksi akan kembali membuat pasar minyak cengkih kembali ke posisi semula.

Jika nantinya harga tak kunjung membaik, bukan tidak mungkin usaha ini akan terancam. Sebab, seiring datangnya musim penghujan, proses pengumpulan bahan baku dan produksi akan terganggu. Karena untuk mendapatkan minyak dengan mutu baik, kondisi bahan bakunya harus benar-benar kering. Saat musim kemarau seperti sekarang, setiap bulan mereka mampu berproduksi hingga lebih dari lima kali perbulan.

Wilayah pemasaran minyak cengkih asal Kabupaten Pacitan telah merambah berbagai kota di Jatim maupun Jawa Tengah (Jateng). Diantaranya Kabupaten Trenggalek, Ponorogo, dan lain sebagainya. “Kami juga berharap pada pemkab untuk ikut mencarikan pasar agar harga stabil,” ungkap Marwan.

Dampak anjloknya harga minyak cengkeh ternyata juga cukup membuat kelimpungan pengepul daun cengkeh. Beberapa pengepul mengaku merugi dalam beberapa pekan terakhir. “Kita beli daun cengkeh dari warga dengan harga Rp 1700 perkilo, kini ditawar Rp 1200 per kilo, jelas rugi,\” ungkap Jamiyah, pengepul daun cengkeh di wilayah Tulakan. (jbc15/jbc1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*