Surabaya Tertinggi Kasus Kekerasan Anak

\"\"

PACITAN (jurnalberita.com) – Surabaya masih mencatatkan diri sebagai kota dengan kasus  kekerasan anak tertinggi di Jawa Timur (Jatim). Hal itu disampaikan Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Anak Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Provinsi Jatim, Hargandono ketika berkunjung ke Kabupaten Pacitan, Senin (17/10).

“Hal itu karena kompleksitas permasalahannya sebagai kota metropolitan,” ucapnya.

Dari data yang dikantonginya, sampai bulan Oktober ini di Surabaya telah terjadi 117 kasus kekerasan terhadap anak. Di posisi kedua diduduki Malang dengan jumlah kasus mencapai sekitar 80 kasus.

Jenis kasusnya juga beragam, mulai kekerasan fisik, pelecehan seksual sampai eksploitasi anak dibawah umur untuk menjadi pekerja seks atau pengemis dan pelaku biasanya adalah orang terdekat korban.

Hargandono mencontohkan kasus yang terjadi pada Juni lalu.Sseorang pelajar kelas 3 sebuah SMP di Surabaya menjual temannya ke lelaki hidung belang dengan imbalan ratusan ribu rupiah sekali kencan. Sebelumnya, diakhir tahun 2010 lalu, sejumlah pelajar perempuan berusia belasan tahun juga dijual rekannya sendiri. “Temannya sendiri jadi mami,” tandasnya.

Mencermati kondisi semacam ini, Hargandono mengatakan anak-anak wajib dilindungi dengan cara memenuhi haknya. Setelah hak terpenuhi, baru kemudian kewajibannya harus dilaksanakan. seperti bersekolah, belajar dan membantu orang tua.

Diakuinya, sampai saat ini masih ada hak-hak anak yang belum bisa dipenuhi secara layak, misalnya hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Demikian pula dengan sektor pendidikan dasar yang belum merata. “Sekarang masih banyak kita lihat anak-anak diajak ngemis, ngamen di perempatan jalan atau lampu merah,” ujar Hargandono.

Selain keluarga, menurutnya, lingkungan juga turut berperan dalam memperlakukan anak. Salah satu, sistem sosial yang menurutnya masih cukup baik adalah sistem yang ada pada masyarakat tradisional, seperti pada masyarakat tradisional suku Tengger.

Pola kehidupan sosial budaya masyarakat yang bersumber dari nilai budaya, religi dan adat istiadat membentuk nilai-nilai kearifan lokal. Dengan memperkuat dan membangun kembali nilai-nilai kearifan lokal diharapkan akan mampu mereduksi pengaruh negatif aspek budaya dan teknologi.

“Anak kadang hanya tahu instan. Pengin cari mudahnya saja. Ini harus kita cegah agar mereka tidak terjerumus,” tegasnya. (jbc15/jbc2) 

Tags: , , , ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

5 Responses

Pingbacks/Trackbacks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*