Masih Banyak Kendala Menuju Daerah Transit

Edy Junan Achmadi, Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Kebersihan (Ciptaruih) Pacitan. (foto : jbc15)

PACITAN (jurnalberita.com) – Selama ini, Kabupaten Pacitan dikenal sebagai daerah tujuan. Padahal, kabupaten yang mempunya brand sebagai “Kota 1001 Goa” ini sangat berpotensi merubah diri menjadi daerah transit. Namun tak mudah untuk mewujudkannya.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang Dan Kebersihan (Ciptaruih) Pacitan, Edy Junan Achmadi mengatakan, kesiapan masyarakat dinilai masih sangat kurang, terutama pada program pembenahan infrastruktur yang seringkali “bertabrakan”.

Ia mencontohkan, persoalan pembebasan lahan jalan lintas selatan (JLS) yang tak kunjung selesai. Padahal, menurut Edy Junan, dengan tersedianya akses jalan berskala nasional tersebut, dapat menjadi daya ungkit terhadap perekonomian secara makro dan roda perdagangan, investasi akan berputar kencang.  Hal itu, menurutnya, akan berpengaruh kepada kesejahteraan masyarakat. “Sebenarnya, masyarakat sendiri yang akan rugi bila JLS tidak selesai,” katanya, Rabu (3/11/11).

Karena itu, dia menegaskan, akselerasi pembangunan di semua sektor, perlu dukungan secara komprehensif dari seluruh komponen masyarakat tanpa kecuali. Sehingga, proses pembenahan infrastruktur bisa berjalan cepat dan selesai sesuai targetnya. “Kita tidak ingin ketika JLS nanti siap beroperasi, kabupaten lain yang menangkap peluangnya. Kita hanya bisa ngaplo,” ujarnya.

Selain infrastruktur jalan, sisi pariwisata juga perlu digiatkan, meskipun dengan segala resiko dan konsekuensinya. Junan menyebut, ada tiga hal pokok yang perlu dikelola, agar pariwisata bisa lebih berkembang, salah satunya adalah sine (pasir). Menurut mantan Kepala Bappeda itu, Pacitan punya banyak lokasi pantai yang berpotensi memberikan daya tarik terhadap masyarakat luar daerah agar datang berkunjung.

Selain itu, juga karena sun (sinar matahari) serta yang ketiga adalah seks. “Tiga hal tersebut sangat berpengaruh terhadap pengembangan wisata. Hanya saja, masyarakat siap apa tidak,” ujarnya.

Sebagai lembaga yang punya peran dalam hal legislasi, Ketua DPRD Pacitan, Soetopo enggan memberikan tanggapan ketika dihadapkan pada poin ketiga, yaitu seks. Dia berpendapat, tata etika moral masyarakat, masih belum bisa menerima hal tersebut.

Dia mengatakan, masih ada upaya lain yang tak kalah pentingnya sebagai elemen pendongkrak. “Kita maksimalkan pembenahan infrastruktur wisatanya,” jelas legislator Partai Demokrat itu, menanggapi pernyataan Junan, kemarin.

 

Sedangkan Wakil Bupati Pacitan, Prajitno lebih setuju bila pengembangan daerah itu lebih difokuskan pada pembenahan infrastruktur, terutama akses jalan. Wabup beralasan, dengan tersedianya infrastuktur jalan yang memadai, Pacitan bisa menjadi kota terbuka.

“Terbuka karena pariwisatanya, pendidikan serta tingkat perekonomian masyarakatnya. Ini kan memberikan kemudahan bagi setiap orang yang akan datang ke Pacitan,” katanya, yang dihubungi terpisah. (jbc15/jbc2)

Tags: , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site