‘Penggila’ Kopi itu Berpulang. Selamat Jalan Sahabat

Bambang Eko Widjanarko (Mas Wid) semasa hidup.

TUBAN – Sebagian kaum Adam atau pria menggemari kopi. Bahkan, kegemaran minum kopi seolah tak terpisahkan dari dunia jurnalis yang kerap menghabiskan waktu di warung kopi untuk sekedar nongkrong, menunggu narasumber, beristirahat usai mengalami lelah meliput berbagai peristiwa dan kejadian.

Dari sekian banyak pria dan beragam wartawan yang kami kenal, ada satu sosok yang sepertinya tak bisa dipisahkan dari secangkir atau segelas kopi. Dia adalah Bambang Eko Wijanarko, jurnalis senior di Kabupaten Tuban, yang masih berstatus sebagai wartawan Harian Bangsa hingga akhir hayatnya.

Mas Wid, demikian rekan jurnalis di Kabupaten Tuban atau didaerah lain yang dikenalnya biasa memanggil. Dimanapun tempatnya dan apapun makanannya, Sarjana Sastra Indonesia yang juga pernah menjadi wartawan Karya Dharma di masa mudanya itu, selalu memilih kopi sebagai minuman pelangkap.

Tak hanya saat di warung, Mas Wid juga selalu memilih kopi sebagai minuman wajib kala berada di rumah makan, hotel bahkan restoran termewah sekalipun, meski hal itu hanya dirasakan di saat-saat tertentu.

Saking hafalnya awak media di Tuban dengan kebiasaan wartawan senior yang bersahaja ini, mereka tak perlu menawarkan menu minuman yang akan disodorkan padanya. 99,9 persen bila ia disodori kopi, tak akan salah. Baginya, minuman serba lain yang serba mewah yang dipampang di menu restoran atau hotel mewah, tak ada artinya dibanding kopi.

Tak terkecuali saat dia bersilaturahmi ke rumah rekannya, baik wartawan, seniman atau siapapun yang dekat dengannya, sudah tentu kopi menjadi pelengkapnya memulai obrolan. Rekan-rekannya juga tidak kaget bila Mas Wid bisa menghabiskan 2 atau 3 gelas kopi mengiringi berbatang-batang rokok kretek yang dihisapnya.

Namun, sekitar 1,5 bulan lalu, kebiasaan minum kopi mulai berkurang. Bapak satu anak ini terlihat memesan teh, susu soda dan beberapa minuman lain pada sejumlah kesempatan. Yang lebih mengagetkan lagi, perokok berat itupun mendadak tak pernah lagi menghisap tembakau, meski tetap doyan kopi.

Seiring perubahan kebiasaannya itu, pria kelahiran tahun 1965 ini terlihat mulai bertambah porsi makannya plus ngemil yang akhirnya membuat perutnya mulai membuncit dan pipinya terlihat tembem. Meski sebenarnya kaget, kami memilih beranggapan, perubahan itu merupakan dampak dari gaya hidup sehat yang sedang dijalaninya.

Anggapan itu (terpaksa) kami simpulkan karena Mas Wid selalu membalas dengan senyuman beberapa pertanyaan yang kami ajukan periha perubahan itu. Hal itupun kami anggap wajar karena karakter pria yang juga pernah menjabat sebagai anggota Panwaslu Kabupaten Tuban ini adalah pria pendiam dan tidak pernah bercerita tentang apapun yang dialaminya.

Senin (26/12/2011) petang, ia dilarikan ke rumah sakit dan mendapat perawatan intensif paska divonis terkena serangan jantung oleh dokter. Semalam di ICU RSUD dr R. Koesma Tuban, Mas Wid menghembuskan nafas terahirnya, Selasa (27/12/2011) sekira pukul 10.15 WIB.

Kabar berpulangnya wartawan senior yang selalu sederhana dalam kesehariannya itu menyebar seantero Jawa Timur. Tidak hanya kerabat dan rekan-rekan wartawan berkerumun dalam duka, para seniman, pejabat, aparat dan berbagai kalangan masyarakat pun nampak mengiringi keberangkatannya menghadap Sang Khalik.

Dari kamar jenazah rumah sakit, almarhum dibawa ke rumah duka di Perum Tasikmadu Gang Bambu I No. 6 Tuban. Usai dimandikan dan disholati di masjid setempat, jenazahnya dikebumikan di tempat pemakaman umum (TPU) yang berjarak ratusan meter sebelah utara rumahnya.

Kami baru sadar, ternyata Mas Wid berhenti merokok dan kebiasaan lainnya, adalah upayanya menjaga kesehatan yang semakin menurun. Tapi dikala tubuhnya mulai nampak sehat dan gemuk, mendadak Tuhan memanggilnya. Innalillahi wainailaihi rojiun.

Untuk menghormatinya, nanti malam seluruh awak media di Kabupaten Tuban akan mengadakan tahlil dan doa bersama untuk sahabat kami, Bambang Eko Widjanarko di kantor balai wartawan.

SELAMAT JALAN MAS WID… !!!
Doa kami mengiringimu. Bahagialah disisi-Nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site