Ingin Anaknya Jadi Polisi, Tertipu Ratusan Juta

Saksi yang dihadirkan dalam sidang serta terdakwa Pupung (kemeja putih)yang mengaku istri perwira polisi. (foto : jbc6)

GRESIK (jurnalberita.com) – Munarwi warga Desa Pangalangan Menganti menangis saat dimintai keterangan sebagai saksi oleh majelis hakim dalam sidang lanjutan perkara penipuan dengan terdakwa Pupung Ejakati Purwantisari, warga Perum Gresik Krembangan Asri (GKA), Desa Kembangan Kecamatan Kebomas.

Pria yang menjadi korban penipuan itu, di depan majelis hakim yang diketuai Fathul Mujib, dengan polos mengatakan, dirinya hanya ingin anaknya, M.Arifin Ardiyansah menjadi polisi.

“Anak saya berkenalan dengan saksi Siswanto sebagai penghubung dengan terdakwa karena ia mengatakan kalau terdakwa bisa memasukkan anaknya menjadi polisi,” terangnya dengan lugu.

Munarwi menambahkan, untuk memuluskan anaknya menjadi polisi, terdakwa mengaku sebagai istri salah seorang perwira polisi berpangkat Kompol yang bertugas di Polda Jatim meminta sejumlah uang.

“Totalnya sekitar Rp 223 juta. Uang tersebut menurut terdakwa akan digunakan untuk memuluskan anaknya menjadi polisi. Tapi sampai waktu yang dijanjikan, anak saya tidak masuk polisi dan uang saya pun tidak kembali,” urainya.

Anak Munarwi, M.Arifin Ardiyansah yang juga menjadi saksi dalam persidangan mengungkapkan perkenalannya dengan Mama, panggilan akrab saksi pada terdakwa Pupung, berawal dari pertemuannya dengan Siswanto. Saat itu, jelasnya, dia bertamu ke rumah Siswanto dan melihat ada foto anggot polisi berpangkat Kompol di ruang tamunya.

“Saya tanya pada Siswanto, foto siapa itu? lalu ia menjawab kalau itu adalah foto pamannya yang saat ini bertugas di Polda Jatim,” terangnya.

Arifin lalu dikenalkan dengan terdakwa yang mengaku sebagai istri dari perwira tersebut. Namun, kata Arifin, untuk menjadi polisi, dirinya dimintai uang dengan alasan untuk melobi petugas di Mabes Polri.

“Saya bersama orang tua saya lalu menyerahkan uang di rumah mama. Pertama sebesar Rp.10 juta sebagai tanda jadi, beberapa hari kemudian kami serahkan Rp. 65 juta. Berlanjut lagi hingga mencapai total Rp. 223 juta,” tegasnya di depan majelis hakim.

Dipenghujung sidang, Saksi Munarwi dan Arifin meminta kepada majelis hakim, agar uangnya pada terdakwa segera dikembalikan. “Uang itu hasil menjual sawah. Kini saya tidak lagi memiliki sawah dan sekarang hanya bekerja sebagai buruh tani,” pintanya, sesekali mengusap air mata yang jatuh.

Menanggapi permintaan saksi, Majelis Hakim menyarankan agar saksi korban melakukan gugatan perdata. “Kalau mau minta uang kembali, lakukan gugatan perdata. Kami disini menyidangkan perkara pidananya,” terangnya. (jbc6/jbc2)

Tags: , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site