Rasiyo ‘Gertak’ Putri Sanjipak 400 CPNS

Rasiyo.

SURABAYA (jurnalberita.com) — Kasus Rasiyo lawan Elisabeth Susanti belum mandeg, bahkan masalah penipuan 400 CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) yang menelan dana sekitar Rp 10 Milyar ini masih berekor panjang. Apalagi Rasiyo yang menjabat Sekdaprov Jatim itu dinilai hanya ‘gertak sambal’ kepada Elisabeth yang dipopulerkan media dengan julukan ‘putri sanjipak’ itu.

Santi sang putri sanjipak masih meradang, dia di Pengadilan Negeri Surabaya berkoar soal dugaan keterkaitan Ketua Umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum dan tudingan Rasiyo dianggap ‘otak intelektual’ dalam modus penerimaan CPNS melalui jalur yang tidak prosedural.

“Saya mencabut pernyataan tentang tidak keterlibatan Rasiyo dan Anas Urbaningrum. Mereka jelas terlibat waktu itu. Termasuk soal pelarian saya, otaknya Hartoyo dan bukan Burhan Hasibuan. Dan sayapun kecewa kepada pihak Kepolisian yang tidak segera menindaklanjuti kenyataan yang saya paparkan ini. Saya akan buka semua,” tegas Santi panggilan akrab di kalangan keluarga besar Partai Demokrat Jatim, di PN Surabaya, Senin (6/2).

Persoalan penipuan CPNS Jatim yang berlangsung sekitar tahun 2008-2009 ini memang marak dan menjadi persoalan nasional. Pihak Kejaksaan Tinggi Jatim pun dapat ‘abu hangat’ berupa demo dari kalangan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang minta diusut tuntas masalah sanjipak (penipuan) CPNS itu.

“Semestinya, permintaan dan perintah Gubernur Jatim, Soekarwo ditindaklanjuti oleh Rasiyo yang menjabat Sekretaris Daerah Provinsi Jatim ini, agar tidak dituding sekadar gertak sambal. Disertai pula tiba-tiba menerobos Rutan Medaeng untuk mengondisikan Santi untuk tandatangan atas keberadaannya,” tegas I Wayan Titib selaku Ketua LSM Anti Korupsi, yang juga pakar hukum Unair ini.

Manuver Rasiyo, dinilai pakar hukum yang lain sebagai ulah yang kontra produktif. “Kalau masalah penipuan CPNS dan berbau korupsi, maka akan terkait tindak pidana, seharusnya tidak ditempuh melalui pendekatan pribadi dan janji. Apalagi ada tekanan psikologis. Ini sangat kontra produktif,” sentil pengacara yang menangani soal konflik wartawan Surabaya Post di masa Ibu Abdul Aziz, waktu itu.

Sementara pihak Petinggi DPD Partai Demokrat Jatim, menganggap masalah CPNS yang tak prosedural itu, merupakan ranah dominan pihak Pemprov Jatim, yang dalam hal ini Sekdaprov Jatim sebagai orang utama dalam kepanitiaan Penerimaan CPNS. “Kalau soal Santi, biar saja dia nyanyi seenaknya sendiri,” lontar Hartoyo yang pernah dekat dengan putri sanjipak.

Begitu pula, Nita Tjindarbumi pembela Santi mengaku, hanya mengurusi soal persidangan. Sedangkan nyanyian dia itu tidak dibicarakan dengan saya. “Saya tidak tahu, itu kemauannya sendiri,” tegas Nita yang juga mantan wartawan.

Sementara itu, Arifin, pengacara Rasiyo menyatakan, “Saya menilai Santi tidak dapat dipercaya. Pernyataannya labil dan gampang berubah. Dia apa layak dipercaya. Suruh buktikan, pernyataannya itu,” ungkap Arifin kepada wartawan.

Elisabeth Susanti itu pun makin meradang dan menyingkap kejahatan politik di balik kemenangan Karsa pada Pilgub Jatim 2009. “Kemenangan Karwo-Ipul itu hasil kecurangan. Tudingan Khofifah adanya kecurangan di tubuh Karsa adalah benar. Dan saya ikut turun ke lapangan bersama Suhartojo (almarhum) atas perintah Rasiyo,” celetuknya.

Buat apa ikut turun lapangan? “Kami diminta menyerahkan duit Rp 10 juta buat setiap TPS, tempat pemungutan suara itu,” sodok Santi, sebelum ditarik masuk ruang persidangan oleh pengacaranya. (jbc5/jbc1)

Tags: , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site