‘Politisi Martil’ Terjerat Dugaan Pemalsuan Surat

RM Boedhi. (ist)

SURABAYA (jurnalberita.com) – Nasib RM. Boedhi diujung tanduk. Ia terjerat kasus dugaan pemalsuan surat keterangan dari sebuah sekolah menengah pertama di Kecamatan Lawang, Malang dan kini ditangani aparat kepolisian Polres Malang

Surat yang seolah-olah asli dan faktual, sebagai pelajar di SMP Al Ma’arif untuk dapat mengikuti Paket C, sebagai syarat pendidikan minimal setara SLA (Sekolah Lanjutan Atas), untuk menjadi Caleg Partai Demokrat.

“Dia menjalani pemeriksaan sedikitnya 5 jam, terkait dugaan pemalsuan keterangan sebagai siswa di sekolah itu,” kata AKP Bayu Indra Wiguna, Kasat Reskrim Polres Malang.

Kasus yang menjerat Boedhi, yang dijuluki ‘politisi martil,’ membuatnya tak bisa lagi menghindar. Meski sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Mojokerto, ia harus menjalani pemeriksaan pihak kepolisian dan terpaksa hilir mudik Mojokerto-Malang.

Ia seharusnya diperiksa penyidik hari Senin (5/3/12), tapi baru dapat dilaksanakan Selasa (6/3/12). “Karena alasan dinas di dewan yang tak bisa ditinggalkan,” tambahnya.

Seperti dilansir media, Boedhi yang bernama asli R. Moektiono, sejak September 2011 lalu dilaporkan ke Polres Mojokerto. Kasusnya dilimpahkan ke Polres Malang, lantaran TKP (tempat kejadian perkara)-nya di Kecamatan Lawang, Malang.

Ketua DPC Partai Demokrat itu tidak ditahan usai menjalani pemeriksaan dan harus menjawab 28 pertanyaan dari penyidik Polres Malang. “Boedhi tidak ditahan, ia kooperatif, kendati dalam waktu dekat akan diperiksa lagi,” tegas Kasat Reskrim Polres Malang kepada para jurnalis, belum lama ini.

Untuk menangani masalahnya, Boedhi meminta bantuan pengacara dari Kantor Advokat Elsa Syarif, yang menurunkan dua orang pengacara, Lutfi Wiryawan dan Sihombing. “Dalam laporan di kepolisian, Boedhi menyuruh Isa Ashari, Kepala  SMP Al Ma’arif. Sehingga terjadilah dugaan pemalsuan keterangan tersebut,” ungkap sumber akurat di Kabupaten Mojokerto.

Nama Boedhi sempat melambung saat Musda Partai Demokrat (PD) Jatim tahun 2011 di Hotel Empire Surabaya. Ia pamerkan sikap ‘martil’-nya dengan menggebrak meja, untuk menunjukkan penolakan keras terhadap Pakde Karwo, yang terpilih secara aklamasi selbagai Ketua PD Jatim.

Tindakan ‘politisi martil’ itu diperkuat oleh janji jago lain yang menjadi rival Pakde Karwo. Boedhi minta dijadikan Sekretaris PD Jatim, namun kenyataan bicara lain. Iapun tetap berteriak lantang dan menghujat Pakde Karwo, kendati didinginkan banyak pihak.

“Sekjen PD, Mas Ibas, panggilan akrab Edi Bhaskoro Yudhoyono,  ikut turun tangan. Dan ‘ngedem-ngedem’ Boedhi, tapi aktingnya terlanjur berlebihan,” ujar Sugiri Sancoko, yang kini menjabat Ketua Komisi E di DPRD Jatim. (jbc5/jbc2)

Tags: , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site