25 Gadis Warung Pangku Digerebek

\"\"

GRESIK (jurnalberita.com) – 25 gadis penjaga warung pangku yang ada di kawasan Tenger Manyar, Jumat (20/4/2012), digaruk oleh Muspika Kecamatan Manyar. Hal itu dilakukan dalam rangka menindaklanjuti deklarasi Gresik sebagai kabupaten bebas asusila, yang dicanangkan beberapa waktu lalu.

Dalam operasi yang dilakukan oleh gabungan personil dari Polsek Manyar dan Satpol PP tersebut, terdapat 13 warung pangku yang dilakukan pendataan. Dalam pendataan tersebut, petugas menanyakan identitas para gadis warung pangku tersebut, yang sebagian besar masih berusia belia atau remaja.

Selain itu, sebagian besar dari gadis warung pangku tersebut juga bukan asli warga Kecamatan Manyar, maupun Kabupaten Gresik. Mereka rata-rata berasal dari berbagai daerah, diantaranya Bondowoso, Situbondo dan Pati.

Bahkan, diantara gadis warung pangku tersebut juga terdapat seseorang yang masih terdaftar sebagai mahasiswi salah satu kampus swasta di Surabaya. Saat diwawancarai jurnalberita.com, mengaku dirinya menjadi gadis pangku untuk menambah biaya kuliah. “Karena biaya kuliah itu kan mahal,” jawab gadis warung pangku yang tidak mau menyebutkan namanya.

Di sini, gadis berusia 20 tahun tersebut mengaku tinggal bersama seorang temannya di sekitar perumahan Gresik Kota Baru. “Saya baru sekitar 3 bulan tinggal sama dia,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Manyar Arif Wicaksono membenarkan jika operasi tersebut dilakukan untuk menindaklanjuti deklarasi antisusila yang dilakukan oleh pemkab Gresik. “Karena pak Sambari sudah menginstruksikan supaya deklarasi tersebut juga diaplikasikan hingga ke tataran kecamatan atau desa,” tuturnya.

Selain itu, menurut Wicaksono keberadaan warung pangku tersebut juga dirasa sangat meresahkan masyarakat. “Karena mereka sering membunyikan musik sangat keras. Padahal menurut aturan tidak boleh,” ujarnya.

Wicaksono pun menambahkan, jika para pemilik warung pangku tersebut juga telah melakukan pelanggaran terhadap perjanjian yang dilakukan dengan pemerintah desa selaku pemilik tanah. “Janjinya mereka hanya mau buka warung biasa saja, tapi nyatanya digunakan untuk café-café seperti ini,” tukasnya.

Rencananya, para gadis warung pangku yang telah terjaring tersebut akan dilakukan pembinaan oleh pihak Muspika Manyar. Pihak Kecamatan pun juga mengaku siap untuk mengembalikan para gadis warung pangku yang bukan dari Gresik kembali ke daerah asal mereka. (jbc6/jbc1)

Tags: , , , , , , , , , , ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

4 Responses

  1. Katanya Gresik berhias “IMAN”, tp kenapa minuman keras meraja Lela dan dilindungi oleh oknum aparat, klu ada kriminal akibat miras baru warung miras di operasi tp semalaman tok besok pagi jual lagi. Dan itu berulang2 kali. Tepatnya di JL Kapten Dulasim Gg IVA (warung billyard) yg didalaminya berjualan miras, minuman oplosan dari arak, kami sebagai warga sangat terganggu tiap malam spdmotor dgn knalpot suara keras terus mengusik ketenangan kami sebagai warga, pengunjung yg selalu bersuara keras selalu mengganggu istirahat kami, sudah mengadu ke Polres ternyata hasilnya nopol, krn mobil patroli datang hanya untuk mengambil jatah…mohon sebagai warga Gresik kami malu dengan julukan Gresik berhias IMAN tp kenyataannya tidak, mohon ditindak lanjuti sebelum warga yg bertindak,terima kasih

  2. Nah ini langkah yg patut diacungi jempol karena keberadaan warung2 tersebut sangat tidak sesuai dg norma kota gresik yg terkenal dgn kota santri,akan tetapi msh bnyk warung2 seperti itu yg perluh ditertibkan sprt di benjeng dan balung panggang yg jg msh marak.

  3. Gresik warung arak. Kartini gg.20

  4. Warung pinggir jalan di manyar dpan kntor kecamatan yang bikin macet juga harus ditertibkan karena trotoar bukan buat pejalan kaki tapi buat parkir sepeda dtambah lagi angkot yang parkir ngawur.harap dibongkar saja warung itu biar gak macet dan pem. desa tidak ambil untung saja tapi juga pikirkan warga pengguna jalan yang kena dampaknya.! mohon dinas terkait menanggapinya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*