Mayday, Pergolakan Besar Nasib Buruh

\"\"SURABAYA (jurnalberita.com) — Hari buruh sedunia yang populer disebut ‘mayday’ ini, akan ditandai sebagai suatu pergolakan besar nasib kaum buruh di awal Mei 2012. “Di Jawa Timur khususnya, dan seluruh Indonesia seluruh buruh turun ke jalan. Mereka meminta pemerintah tegas dan konkrit untuk menata konektivitas kerja yang simbiosis mutualisme, antara buruh dan para majikan,” lontar I Wayan Tatib Sulaksana, dosen fakultas hukum Universitas Airlangga Surabaya.

Menurut Wayan yang juga Ketua Amak (Aliansi Masyarakat Anti Korupsi) Surabaya ini, nasib buruh, petani, nelayan dan para kaum miskin tertindas kini nasibnya makin terlindas. “Coba lihat dan pikirkan, bagaimana kebijakan BBM yang ternyata makin melindas nasib wong cilik itu. Harga lombok melambung sekitar Rp 40 ribu/kg ini mencekik nasib kaum pedagang kakilima dan buruhpun makin sulit membeli nasi bungkus yang memenuhi standar gizi,” tegas Wayan yang dikenal berjiwa nasionalis tinggi.

Fakta sosial tak terbantahkan, lanjutnya, jika menyibak pernyataan Presiden SBY dan kaum politisi. Mereka ini, soal kenaikan BBM diundur sampai memenuhi syarat prosentase kenaikan harga dunia di atas 15% dan batas waktunya sekitar 6 bulan. “Namun nyatanya, semua 9 bahan pokok ini mencekik rakyat. Dan aneh, kementerian perdagangan dan perekonomian seakan membiarkan kaum pengusaha dan pedagang menikmati masa transisi ini,” sentil Wayan.

Sementara Hari Sugiri, Kepala Disnakertrans (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi) Pemprov Jatim, hanya sibuk melontarkan janji dan rasa impatinya kepada kaum buruh. “Kami pro kaum buruh, tapi dalam menyongsong demo besar-besaran pada 1 Mei 2012 ini akan diatur dalam 6 titik,” jelasnya kepada wartawan yang ditemui terpisah.

Pemprov Jatim dan Kapolda Jatim cenderung bersikap antisipatif, dalam situasi yang bak siaga satu itu menerjunkan ribuan aparat didukung puluhan panser anti huru-hara dan water canon. Namun, akan mengutamakan model dialektika yang seperti dilakukan pada saat menghadapi demonstran anti kenaikkan BBM, kemarin.

Tidak ketinggalan, jajaran Polrestabes Surabaya menurunkan puluhan mobil patroli yang bergerak di sepanjang jalur utama dan pusat-pusat keramaian maupun perbelanjaan, dan situasi kota Surabaya yang tenang tapi dalam kewaspadaan ini seperti menggambarkan kembali situasi menjelang Penggulingan Rejim Soeharto di tahun 1998. “Kami bertugas 24 jam, untuk monitor situasi sosial agar kota Surabaya tetap nyaman,” tutur seorang Patwal (Patroli dan Pengawalan) dari Kepolisian.

Sedangkan ke 6 titik yang diperketat pengamanannya, adalah Grahadi, DPRD Surabaya, Pemkot dan Rumah Dinas Walikota Surabaya, Kantor Gubernur dan Gedung DPRD Jatim. (jbc5/jbc1)

Tags: , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*