Misteri Arca Kera Tulungagung Belum Terungkap

Arca kera yang ditemukan tertanam dalam sebuah gundukan bukit dekat Sungai Song, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. (foto:ist)

TULUNGAGUNG (jurnalberita.com) – Danang Wahyu Utomo, seorang  arkeologi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, melakukan serangkaian penelitian terhadap arca kera yang ditemukan tertanam dalam sebuah gundukan bukit dekat Sungai Song, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Namun Danang sampai saat ini belum bisa menyimpulkan asal-usul maupun usia arca kera yang disebutnya sebagai temuan langka tersebut.

“Temuan ini cukup unik, karena masih baru pertama kali sebuah arca kera ditemukan dalam bentuk berdiri sendiri di Indonesia. Biasanya perwujudan kera digambarkan dalam bentuk relief candi saja,” terang Danang.

Menurut Danang, arca kera lazim ditemukan di luar wilayah Indonesia, terutama di India. Di negeri itu arca kera yang menjadi perlambang tempat pemujaan terhadap tokoh/ksatria dalam epik ramayana, yakni kera hanoman. Sementara di Indonesia selama ini belum pernah ada sejarah yang menyebutkan ada pemujaan pada patung kera, meskipun ada kemungkinan besar arca tersebut adalah arca kera hanoman seperti yang ada di India.

“Di India memang ada pemujaan terhadap kera hanoman. Arca kera di manapun ditemukan adalah gambaran dari tokoh hanoman, meski masing-masing daerah ataupun negara mempunyai pola bervariasai untuk menggambarkannya,” jelasnya.

Patung yang memiliki dimensi tinggi 77 centimeter, lebar 46 centimeter, dan tebal 31 centimeter tersebut ada sedikit keterkaitan dengan penemuan sebelumnya, yakni sebuah patung Dewi Parwati yang merupakan perwujudan istri Dewa Shiwa yang ditemukan beberapa tahun sebelumnya. Namun, ia belum berani menyimpulkan asal-muasal maupun usia arca langka tersebut. Pakar arkeologi dari BPCB Trowulan ini hanya memastikan bahwa arca tersebut benar-benar merupakan peninggalan purbakala di masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha.

Danang mengaku kesulitan mengidentifikasi usia maupun masa pembuatan arca langka tersebut, karena di sekitar lokasi penemuan tidak ada candi atau situs purbakala lain yang bisa dijadikan rujukan ataupun referensi masa pembuatan patung kera bertubuh mirip manusia raksasa tersebut.

“Itu mungkin saja, karena arca kera tersebut ditemukan di bukit dekat Sungai Song dengan kedalaman tiga meter di bawah permukaan tanah.” ujarnya. Namun Danang memastikan, pihaknya tetap akan berupaya menguak asal-usul sejarah dari arca kera tersebut. Selain temuan arca kera itu dinilai langka/unik, dia mengungkapkan bahwa kultur pemujaan terhadap kera belum pernah ada di literatur manapun tentang Indonesia. Ia berharap, temuan itu ke depan bisa menjadi tambahan referensi tentang kebudayaan nenek moyang bangsa Indonesia.

“Mungkin nanti juga akan melibatkan tenaga ahli arkeolog yang lain, untuk sementara saya hanya memastikan keberadaan patung tersebut. Tapi melihat bahannya dari batu pasir, ini jelas peninggalan purbakala,” ucapnya.

Arca kera yang diteliti Danang saat ini menjadi koleksi Museum Daerah Tulungagung. Patung tersebut merupakan salah satu benda purbakala yang paling sering ditanyakan pengunjung, terutama siswa sekolah dan mahasiswa, karena kebanyakan dari mereka belum pernah menemui literatur yang menyebutkan patung kera dimaksud.

“Kalau benda-benda lain, seperti koleksi terbaru replika patung manusia purba maupun tengkorak Homo Wajakensis sepertinya mereka hanya sekadar ingin memastikan, tapi untuk arca kera tersebut, banyak yang cukup penasaran,” kata Hariyadi, petugas Museum Daerah Tulungagung. (hbc/jbc1)

Tags: , , , , , , , , , , , ,
Subscribe to Comments RSS Feed in this post

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site