Sekelumit Kisah, Penjual Sate Laler Keliling

Pejabatpun Demen Menyantapnya

Katimun, penjual sate laler keliling saat melayani pembelinya. (foto:jbc15)

Mendengar kata laler (lalat, red), bagi kebanyakan orang pasti akan bergidig. Mahfum saja, serangga kecil yang suka berkerumun di tempat-tempat kotor dan berbau tersebut memang menjijikan. Namun bagaimana dengan ‘sate laler’, masihkah orang merasa jijik ketika melihat sajian kuliner tersebut?

Sore itu, mendung diatas langit Desa Bangunsari Kecamatan/Kabupaten Pacitan, nampak menggelayut kelam. Sayup-sayup di kejauhan, lirih terdengar suara terompet beriring deru mesin motor dua langkah. Tak seberapa lama, lantas terselip teriakan kecil, “Sate… sate….. sate.”

Begitulah suara khas Katimun, saat berkeliling kampung menjajakan makanan yang jamak disebut  ‘sate laler’. Ditemani kuda besi butut lansiran tahun 80-an, bapak tiga anak itu seakan tak kenal lelah terus berkeliling menyusuri gang-gang kecil di kompleks perumahan untuk sekedar mencari calon pembeli. “Seperti inilah, aktifitas yang harus saya jalani setiap harinya, Mas,” ujar Katimun, disela-sela kesibukannya melayani pembeli.

Untuk mempersiapkan sajian kuliner murah meriah itu, sedari pagi, suami Darmi Wijayanti ini sudah disibukan dengan beberapa ekor ayam pedaging yang harus disembelih dan dipotong kecil-kecil. Lantas, potongan daging seukuran laler itu, satu demi satu dia sunduk dengan biting (batang daun kelapa, red) hingga menjadi sekitar 450-480 sujen (tusuk, red) sate. Saat hari menjelang sore, Katimun pun lantas bersiap-siap mengais untung dengan membonceng motor bututnya. Tak lupa, rombong kecil tempat menyimpan sate beserta perlengkapannya, seperti tungku, kipas, dan botol kecap, selalu nangkring di atas sadel. Pun, terompet yang terpasang di stang motornya, sesekali dibunyikan agar pembeli tahu dan mendengar kedatangannya. “Biasanya sehabis Ashar, saya mulai berjualan keliling,” celetuknya.

Dari satu kampung ke kampung lain, ia susuri. Dalam benak hatinya, Katimun hanya bisa berharap, ratusan sujen sate laler hasil olahannya itu bisa terjual habis. Menurutnya, untuk bisa menikmati sepuluh tusuk sate laler lengkap dengan bumbu sambal kacang dan taburan berambang goreng serta kecap manis, cukup membayar Rp 4.000 saja. Itu pun tak jarang, penjual sate asal Dusun Ngasem, Desa Bolosingo ini harus melayani pembeli anak-anak dengan harga ‘semau gue’. Terkadang dengan uang recehan senilai gopek (Rp 500) pun, ia layani. “Namanya anak-anak, berapapun mereka beli, tetap saya layani,” cerita ayah kandung dari Wahyu Sabila (12), Fahronisa Destiana (5) dan Isma Ferdi Nugroho (3) itu pada jurnalberita.com.

Sikap ‘lunaknya’ kepada pembeli itulah yang membuat dagangan sate laler Katimun, laris manis tanjung kimpul. Uniknya lagi, sekalipun punya brand tak lazim, ‘sate laler’ ternyata juga disuka masyarakat strata atas. “Banyak juga bapak dan ibu pejabat yang membeli sate laler saya, Mas. Malah pernah juga mereka pesan untuk acara ulang tahun anaknya,” tuturnya bangga.

Lantas berapa keuntungan yang diperoleh dengan berjualan kuliner khas Ponorogo itu? Menurut Katimun, setiap harinya ia mengaku bisa mendapat omset antara Rp 180.000- Rp 200.000. Dari omzet kotor tersebut, ia bisa mengantongi untung sekitar Rp 80.000.  “Kalau dibilang banyak, ya tidaklah, mas. Yang penting, anak bisa sekolah dan kebutuhan keluarga bisa tercukupi,” ucapnya. Selain berjualan, tak jarang lelaki 33 tahun itu juga melayani jasa membuat sate untuk hajatan. Tarifnya pun, ala kadarnya. Bahkan bisa jadi, hanya ucapan terima kasih dan imbalan makan sate buatannya sendiri. Sekalipun begitu, Katimun mengaku ikhlas. (jbc15/jbc1)

Tags: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site