Selama 50 Tahun Bank Jatim Bermodal Rp 900 M

Dirut dan Komisaris Bank Jatim. (foto : jbc5)

SURABAYA (jurnalberita.com) – Dari dialog dan diagnosa Bank Jatim bersama Komisi C bidang Keuangan DPRD Jatim, terkuak hal ironis dan lemahnya ‘political will’ para penguasa Pemprov Jatim selama ini, terkait dengan kekuatan dan besaran modal yang hanya sebesar Rp 900 miliar.

“Kami sebagai pelaksana teknis perbankan di Bank Jatim harus tangguh, kendati dari sisi permodalan terakumulasi dana sebesar Rp 900 miliar saja dalam 50 tahun,” kata Hadi Sukrianto, selaku Direktur Utama Bank Jatim di depan Pimpinan dan Anggota Komisi C, Kamis siang (31/5/12).

Urusan perbankan sangat terkait dengan dana segar maupun permodalan yang dimiliki. Dan baru kali ini jajaran petinggi Bank Jatim mulai terbuka atas berbagai persoalan, termasuk supporting modal, yang selama 50 tahun dan sejak berdiri baru hanya Rp 900 miliar. Padahal, penyertaan modal ke Bank Jatim diharapkan mengucur dari APBD Jatim setiap tahun di atas rata-rata Rp 100 Mliar.

Disebutkan pula oleh Komisaris Bank Jatim, H. Chaerul Djaelani, penyertaan modal dari pemegang saham Pemkab/Pemkot saja, baru masuk tahun 2012. “Untuk penyertaan modal tahun 2011 saja, disetor jelang RUPS 2012 yang jumlahnya Rp 750 Milyar,” jelas mantan Dirut Bank Jatim ini.

Diakui Chaerul, pihaknya akan terbuka dan mau menyurati Komisi C, agar peran dan komunikasi DPRD Jatim dalam memajukan Bank Jatim selaras dengan visi dan misi maupun pencapaian kemajuan setiap tahunnya.

Khusus di tahun 2012, kata Hadi Sukrianto, Bank Jatim akan mereguk modal segar dari pelepasan saham melalui IPO (Initial Public Offering) minimal Rp 1 Triliun. Modal ini diperoleh dengan konsekuensi melepas sebagian sahamnya, kendati masih mayoritas di tangan Pemprov Jatim sebesar 51% dari jumlah total saham Bank Jatim.

Disebutkan pula, sesuai data dan pemaparan kinerja Bank Jatim di depan Komisi C yang hadir sekitar 13 orang ini, modal dasar Bank Jatim akan ada peningkatan dari Rp 2,5 triliun menjadi Rp 9 triliun.

Hanya saja, ada keunikan. Dari mayoritas saham 51% yang dimiliki oleh Pemprov Jatim terselip saham para karyawan Bank Jatim sebesar 10%, melalui program Employed Stock Allocation (ESA).

“Saham 10% ESA itu, merupakan bentuk pendekatan efektif bagi manajemen dan karyawan Bank Jatim. Kami ingin ada rasa handarbeni para karyawan atas banknya itu,” tutur Hadi Sukrianto,  mantan Direktur Pengawas Bank Jatim pada masa Chaerul Djaelani menjabat  Dirut. (jbc5/jbc2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site