GO Art Space Pamerkan Lukisan “Isyarat Langit”

\"\"

SURABAYA (jurnalberita.com) – Sepuluh pelukis atau perupa asal Jogjakarta menggelar karya mereka di GO Art Space, Jalan Sutorejo Timur H1/40 Surabaya. Pameran yang akan digelar hingga 17 Agustus mendatang tersebut memilih tema “Isyarat Langit”.

Kesepuluh pelukis atau perupa yang memamerkan lukisannya adalah Bayu Widodo, Budi Bodhonk Prakoso, Dedy Sufriadi, Diah Yuliantio, Prima Puspita Sari, Joko ‘Gundul’ Sulistiono, Lenny Ratnasari Weichert, Priyaris Munandar, Uret Pari Ono, dan Yustoni Valenturo.

Sekitar 30 karya lukis yang mereka tampilkan, semuanya beraliran semi abstrak. “Lukisan-lukisan ini mengajak kita berfikir untuk memahaminya. Dan justru inilah nilai seninya,” kata kurator lukisan, Suwarno Wisetrotomo.

Budi Bodhonk Prakoso, ketika diminta menjelaskan salah satu karya lukisnya yang diberi judul “Lelaki Ahad Wage” mengatakan, karya lukisnya itu menggambarkan bila dirinya sebagai orang Jawa yang tidak lepas dari tradisi Jawa, berupa weton atau hari kelahiran yang kuat mempengaruhi pribadi dan menjadi rumusan untuk menentukan segala aktivitas hidup.

“Saya dilahirkan dalam ruang lingkup Jawa. Jadi, Lelaki Ahad Wage itu saya sendiri,” kata pria yang akrab disapa Bodhonk ini.

Dia jelaskan, secara keseluruhan pada dirinya terdapat berbagai macam sentuhan, dimana orang yang terbungkam mempunyai sejumlah sayap dan juga kotak-kotak yang mempengaruhi di dalamnya.

\”Saya ini orang Jawa, tapi ketika disuruh bicara tentang Jawa, saya tidak tahu detail atau tidak bisa membahasnya mendetail, karena Jawa terkotak-kotak banyak seperti itu,\” tandasnya.

Kurator lukisan Suwarno Wisetrotomo menerangkan, tema yang dikonsep para pelukis dengan judul \”Isyarat Langit\” ini disetujui, karena cukup baik dalam pembahasan sekaligus menjadi kontemplasi setiap pelukis.

Dikatakan, tema tersebut menemukan titik sambung antara lukisan para seniman dengan topik dan seringnya watak seni yang selalu menyembunyikan makna sesungguhnya. \”Pada kesenian, seniman didorong untuk bersembunyi dari keaslian yang ditampilkan. Jadi memang beda dengan ilmu-ilmu teknik,\” katanya.

Sementara itu,  pemilik GO Art Space, Lee Soetikwan mengungkapkan harapannya pada masyarakat agar datang, melihat dan memahami lukisan-lukisam yang tengah dipamerkan.  Menurutnya, di luar negeri, seperti Singapura dan New York yang pernah dikunjunginya, untuk melihat pameran lukisan semacam ini ditarik biaya alias membayar.

“Lebih dari itu, di luar negeri, lukisan-lukisan seperti ini justru banyak diminati dibanding lukisan-lukisan realis,” ungkapnya. (jbc2/ane/ksb)

Tags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*