Masjid Tegalsari, Cikal Bakal Islam di Ponorogo

\"tegalsari

Seorang Pujangga Jawa yang masyhur Raden Ngabehi Ronggowarsito alias Bagus Burhan,  tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto,  Paku Buwana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura, adalah deretan Alumni Pondok Tegalsari. Bukti kemashuran sejarah Pondok ini masih bisa kita rasakan saat kita mengunjungi Masjid Besar Tegalsari. 

PONOROGO  (Jurnalberita.com)– Salah satu obyek wisata religi di Kabupaten Ponorogo adalah Masjid Tegalsari. Konon, masjid ini dipercaya sebagai masjid cikal bakal penyebaran Agama Islam di Bumi Reyog. Masjid yang pernah dikunjungi mantan Presiden RI HM. Soeharto dan KH. Abdurahman Wachid terletak di RT. 01, RW. 01, Dukuh Gendol, Desa Tegalsari Kecamatan Jetis, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tepatnya,  terletak 10 km arah tenggara dari pusat kota  (Searah dengan jalur Pondok Pesantren Walisongo, Desa Ngabar, Kecamatan Siman dan Al-Mawadah, Desa Coper, Kecamatan Jetis).

Masjid Tegalsari merupakan bagian dari cagar budaya, satu diantara sekian banyak obyek wisata andalan di Kabupaten Ponorogo, dipercaya merupakan peninggalan Kyai Ageng Muhammad Besari seorang ulama’ sakti dan berbudi luhur yang konon merupakan keturunan ke sebelas Nabi Muhammad SAW.

\"ruang

Sehingga banyak kyai yang tumbuh dan berkembang dari keturunan ini diantaranya Kyai Zainal putra kesembilan dari Kyai Muhammad Besari yang menjadi Raja Selangor Malaysia, Kyai Moh. Muhji menjadi Raja penerus dari Ayahandanya dan Nyai Ngaisah Dinobatkan sebagai Sultan Johor Malaysia. Menurut sejarah karena Tegalsari melahirkan orang-orang yang Dekdaya  atau sakti maka sampai sekarangpun dipercaya banyak orang sebagai salah satu tempat yang mempunyai daya tarik, keunikan dan kekhasan.

Menurut Mbah Sujak, sesepuh Desa Tegalsari yang juga juru kunci Kompleks Makam Kyai Ageng Muhammad Besari di Kompleks Masjid Tegalsari mengakui hampir tiap hari dikunjungi ratusan orang untuk Ngalap Berkah atau mencari hidayah. Apalagi dalam bulan suci Ramadhan maupun menjelang pelaksanaan Ujian Nasional, puluhan ribuan pelajar melakukan dzikir dan doa bersama serta sholat hajad.

Beberapa keunikan Masjid Jami Kyai Muhammad Besari  menurut Mbah Sujak, antara lain adalah Kubah masjid yang terbuat dari tanah liat (sejenis gerabah) yang masih terjaga keasliannya hingga sekarang. Kubah ini menurut cerita pada jaman Belanda pernah di tembak berkali-kali namun tidak rusak sedikitpun.

Soko guru berjumlah empat buah yang masing-masing mempunyai kekuatan tersendiri apabila ada orang yang berdoa di dekat tiang tersebut dan didukung oleh tiang-tiang penyangga Masjid lainnya,” tutur Mbah Sujak.

Selain itu payung kebesaran yang konon bisa dipergunakan sebagai penangkal atau tolak balak mana kala ada kerusuhan di desa Tegalsari. “Ada juga peninggalan Batu Tangga peninggalan Kerajaan Majapahit berukuran 1 x 0,6 meter dan Ruang Pertemuan Dalem Njero yang  merupakan tempat peristirahatan Kyai Ageng Muhammad Besari yang berada di seberang jalan masjid,” tambahnya.

\"\"

Dalem Njero ini saat ini dimanfaatkan oleh Yayasan  Tegalsari sebagai tempat untuk pertemuan rutin kegiatan yayasan. “Dalem Njero juga diyakini sebagai tempat bermunajat yang paling ampuh,” ulasnya.

Alumni pondok Tegalsari ini banyak yang menjadi orang besar dan berjasa kepada bangsa Indonesia. Di antara mereka ada yang menjadi kyai, ulama, tokoh masyarakat, pejabat pemerintah, negarawan, pengusaha, bahkan pujangga keraton. Misalnya, Paku Buwana II atau Sunan Kumbul, penguasa Kerajaan Kartasura; Raden Ngabehi Ronggowarsito alias Bagus Burhan (wafat 1803), seorang Pujangga Jawa yang masyhur; dan tokoh Pergerakan Nasional H.O.S. Cokroaminoto (wafat 17 Desember 1934).

Sebuah riwayat  menyebutkan, keberadaan pondok itu mengelilingi sebuah masjid yang didirikan Kyai Ageng Besari pada tahun 1760. Menurut Afif Azhari, Ketua Yayasan Kyai Ageng Besari, rehab pertama menyalahi Bistek sehingga hampir mengubah wajah asli bangunan masjid di atas lahan seluas satu hektar itu. Dengan penambahan serambi dan bangunan di sisi kiri-kanan masjid. “Namun, rehab terakhir berusaha dikembalikan lagi seperti aslinya,” ujar Afif Azhari.

Secara arsitektural, masjid ini memiliki langgam Jawa kuno. Terdiri dari tiga bangunan yang saling berhimpit, berorientasi barat-rimur, bangunan masjid beratap tajug tumpang riga terletak paling barat. Di dalam interior terdapat empat buah saka guru, 12 sakarawa, dan 24 saka pinggir penyangga atap tajug yang dipasang dengan sistem ceblokan.

Struktur atap tajug diekspose, sehingga dapat diketahui bahwa brunjungnya merupakan jenis atap tajug peniung atau payung agung, karena usuknya disusun secara sorot. Selain itu, juga juga terdapat mimbar kayu berukir, yang sebetulnya merupakan replika dari mimbar asli yang telah rusak.  Mihrabnya merupakan sebuah ceruk yang dibingkai kayu ukiran dengan bentuk dan stilirasi dari kalarnakara.

Di sebelah rimur masjid terdapat pendopo beratap limasan. Di sebelah timur pendopo terdapat bangunan tambahan beratap kubah metal dengan proporsi sangat pendek. Bangunan tambahan ini termasuk bangunan yang dibuat atas dana bantuan dari Soeharto. Bangunan kuno lainnya yang masih terjaga adalah rumah Kyai Ageng Besari, yang berada di depan masjid. Rumah itu dikenali sebagai rumah adat satu-satunya yang masih ada. Karena itulah, pemerintah setempat menetapkan kawasan ini sebagai obyek wisata religi.

Keunikan masjid ini bisa ditemui pada pilar-pilar kayu jati yang keseluruhannya berjumlah 36 buah, atau tembok setebal 0,5 meter. Sirap, usuk, selukat dan lain-lain, sebelum direhab pada 1978 masih asli. Ketika rehab pada 1998 pun, tidak mampu mengembalikan keaslian bangunan. Lebih parah lagi, pada masjid putri, di sebelah kanan masjid utama, semua bagian telah berubah dan nyaris tak ada bedanya dengan bangunan pada umumnya. Tempat tinggal Ronggowarsito semasa jadi santri juga sudah tak jelas keasliannya.

Di sisi barat masjid terdapat makam keluarga besar Kyai Ageng Besari. Pada saat bulan puasa, terutama sepuluh hari terakhir, kawasan ini kebanjiran pengunjung. Tak cukup hanya di lingkungan masjid, bahkan meluber sampai kawasan desa. Pada 1990-an, pemerintah bersama tokoh-tokoh agama setempat berkeinginan membesarkan pesantren itu dengan nama pesantren Ulumul Quran. Namun, kata Afif Azhari, keinginan itu hingga kini belum berhasil diwujudkan. Yang masih berjalan hingga kini adalah pesantren dengan sistem modern, yaitu Madrasah  Tsanawiyah dan madrasah Aliyah Ronggowarsito.

\"ruang

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemkab Ponorogo, Sapto Djatmiko menjelaskan bahwa masjid Kyai Muhammad Besari selesai dipugar dan diresmikan oleh Presiden RI Ke 2 HM. Soeharto pada 2 Maret 1978 silam. “Bahkan dalam rangka Lomba Anugerah Wisata Jawa Timur Tahun 2012, Pemerintah Kabupaten Ponorogo menghimbau kepada masyarakat luas se Kabupaten Ponorogo untuk memberikan dukungan SMS sebanyak-banyaknya terhadap Wisata Religius Kyai Muhammad Besari agar bisa menjadi nominator,” harap Sapto Djatmiko.

Program-program yang telah dilakukan oleh pengelola dalam memajukan dan mengembangkan daya tarik wisata yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan oleh Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemkab Ponorogo antara lain menjaga dan melestarikan keunikan dan keasrian warisan leluhur sehingga nilai warisan tersebut tidak luntur.

“Sebagai wujud tanggung jawab pemerintah untuk melestarikan situs maka pemerintah mencoba melakukan terobosan-terobosan baru baik melalui media masa maupun elektronik disamping itu disediakan juga leaflet serta brosur-brosur pada saat acara pameran di luar daerah,” jelasnya.

Selain itu setiap tahun ada even religi sekaligus memperingati haul Kanjeng kyai Muhammad Besari. “Evennya berupa lomba tahlil, tartil dan lainnya dan juga lintas budaya sejarah Tegalsari,” bebernya.(jbc19/jbc15)

 

Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*