Geliat Pelindo III Pada Koridor MP3EI

Modal serta kemampuan yang dimiliki PT Pelindo III untuk mensukseskan program pemerintah, seperti yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) , tak dapat dipandang enteng. Pembangunan, penambahan fasilitas serta peningkatan kemampuan SDM terus digeber.

Dalam perkembangannya, program pemerintah yang terbagi dan dijalankan dengan tiga strategi utama yaitu pengembangan potensi ekonomi melalui koridor ekonomi, penguatan konektivitas nasional, dan penguatan kemampuan SDM dan IPTEK Nasional, lambat laun telah dijalankan dengan kekuatan penuh, termasuk dukungan trilyunan rupiah dana.

Trilyunan rupiah dana digelontorkan pada sektor pembangunan fasilitas dan penambahan peralatan. Hal itu dilakukan untuk memperkuat konektivitas nasional yang terintergrasi secara lokial dan terhubung secara global.

Beberapa pembangunan itu diantaranya, pembangunan Terminal Multipurpose Teluk Lamong Pelabuhan Tanjung Perak yang diharapkan mampu mengatasi kepadatan arus kapal di Pelabuhan Tanjung Perak.

Sesuai jadwal, diperkirakan tol yang dibangun konsorsium BUMN dan BUMD, salah satunya PT Pelindo III, akan selesai setahun mendatang.

Selain itu, Modernisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Pengembangan Terminal Petikemas Pelabuhan Banjarmasin, Pengembangan Terminal Petikemas Pelabuhan Tenau Kupang, Pembangunan Pelabuhan Marina di Benoa dan Pembangunan Jalan Tol Nusa Dua-Ngurah Rai-Benoa (Konsorsium BUMN : PT Jasa Marga, PT Pelindo III,  PT Angkasa Pura I, PT Wijaya Karya, PT Hutama Karya, PT Adhi Karya dan PT Pengembangan Pariwisata Bali), menjadi bukti keseriusan PT Pelindo III mendukung program yang telah dicanangkan pemerintah RI.

 

Dari 6 koridor ekonomi Indonesia, tiga diantaranya masuk dalam wilayah kerja PT Pelindo III, yakni Koridor Jawa, Kalimantan dan Bali-Nusa Tenggara. Hal itulah yang memacu kinerja dan keseriusan mendukung program MP3EI hingga pada awal tahun 2012 lalu, PT Pelindo III  meresmikan pengoperasian Terminal Petikemas di Pelabuhan Tenau Kupang NTT.

Milaran rupiah kembali digelontorkan guna menambah fasilitas dan peralatan hingga membuat Terminal Petikemas di Pelabuhan Tenau Kupang menjadi terminal pertama dan satu-satunya yang dilengkapi dengan peralatan bongkar muat termodern pada pelabuhan di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Tak hanya mendongkrak perekonomian dan memperlancar arus logistik di wilayah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya, penambahan peralatan tersebut dilakukan mengingat potensi petikemas Pelabuhan Tenau Kupang cukup bagus, lantaran letaknya yang strategis di wilayah Indonesia Timur.

Hal itu terlihat dari kunjungan kapal petikemas yang masuk melalui pelabuhan tersebut berasal dari Surabaya, Timur Leste bahkan dari Australia.

Bagaimana dengan koridor Jawa? Tak hanya fasilitas, PT Pelindo III jor-joran menambah peralatan bongkar muat dan membangun fasilitas. Di Pelabuhan Tanjung Perak misalnya, tak hanya mempercepat proses pembangunan pelahuhan Teluk Lamong, namun penambahan peralatan terus dilakukan guna mempercepat pelayanan pada pengguna jasa.

Di terminal konvensional Jamrud misalnya, 7 (tujuh) unit HMC didatangkan dan telah beroperasi. Penguatan dermaga dan pembongkaran gudang juga dilakukan guna memperluas lokasi penumpukan barang.

Kucuran investasi pada beberapa pelabuhan cabang dan anak perusahaan di bidang jasa kepelabuhanan, secara langsung mampu menambah pundi pendapatan PT Pelindo III. Hasil pencapaian dan realisasi arus petikemas sampai dengan semester I tahun 2012 melalui Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, yang terdiri dari terminal Jamrud, Nilam, Mirah, PT Terminal Petikemas Surabaya dan PT Berlian Jasa Terminal Indonesia (PT BJTI), tercatat  sebanyak 1.166.233 box setara dengan 1.392.982 teus.

Realisasi tersebut terdiri dari dari arus petikemas internasional sebanyak 439.904 Box (37,7% dari total arus petikemas) atau setara 619.287 Teus (44,5% dari total arus petikemas). Atau dengan kata lain, realisasi tersebut menunjukkan pertumbuhan arus petikemas meningkat pada kisaran angka 10% dibanding arus petikemas pada tahun 2011 sebesar 2.205.886 box atau setara 2.643.518 teus.

Namun sayang, masih terjadi kendala yang sedikit banyak mengganggu dan menghambat laju PT Pelindo III untuk mempercepat koneksi dan laju perekonomian yang datang dari faktor alam. Salah satunya seperti yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Emas. Di pelabuhan yang dikelola PT Pelindo III cabang Tanjung Emas dan Terminal Petikemas Semarang (TPKS) ini, faktor alam berupa bajir yang diakibatkan air laut pasang atau rob menjadi kendala yang mempengaruhi kinerja.

Akibatnya, seperti yang dituturkan GM PT pelindo III cabang Tanjung Emas, mereka tak hanya memikirkan upaya untuk mendongkrak pendapatan dengan berbagai terobosan,  namun juga harus berfikir keras untuk mengatasi ‘bencana’ banjir yang selalu datang saat air laut pasang.

“Mau gak mau harus dihadapi. Tapi kita optimis dapat mengatasi dan sudah punya solusi,” kata Tri Suhardi beberapa waktu lalu, sembari menyebut angka Rp. 180 miliar guna mengatasi agar air rob tak menggenangi wilayah kerja PT Pelindo III cabang Tanjung Emas. (bagus budiarso)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site