Keluarga RH Beri Makna Hakiki Nuzulul Qur’an

Prof. Sam Abede dan Ridwan Hisyam

SURABAYA, (jurnalberita.com)-  Tentu tidak banyak keluarga Muslim di dunia ini,  yang memberikan makna hakiki Nuzulul Qur’an sebagai malam seribu bulan di Ramadhan 1433 Hijriah ini.

“Pemaknaan dan pengamalan atas  hari Nuzulul Qur’an itu, kami sekeluarga melakukan sholat tasbis berjamaah bersama rekan sejawat,” kata Ir. H. Ridwan Hisyam tokoh gaek politik dari Partai Golkar, di kediamannya di Surabaya.

Menurutnya, pemaknaan hakiki adalah sangat tepat, agar kaum Muslimin lebih menghargai dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci kaum Muslimin ini.  “Kebetulan sesuai SMS ente, dan aku baru datang dari Jakarta,” tandas Ridwan Hisyam yang populer dipanggil RH itu, kepada seorang wartawan , Senin dini hari. (7/6).

Sholat Tasbih yang diimami Habib Alwi Baagil dari Ketapang – Sampang ini diikuti sekitar 200 orang, sebelumnya  ada sekapur sirih dari Prof. H. Sam Abede Pareno yang menguraikan tentang  Sholat  Tasbih dan Makna Nuzulul Qur’an beserta alhikmahnya.

Kesuksesan seseorang, kata Prof. Sam Abede, dipastikan tidak terlepas atas  keistiqomahan dia dalam ibadah  yang khususnya sholat wajib dan sunnah, antara lain Sholat Tasbih.

Kejutan lain,  malam  pemaknaan hakiki Nudzulul Qur’an  oleh RH dan keluarganya itu mengajak saur bersama. Tetapi, sebelumnya diiringi doa pula atas  tasyakuran HUT  ke 64 istri tercinta RH bernama Siti ‘Nunung’ Nuraini, putri dari Tanah Tinggi Sumenep Madura.

Mbak Nunung bersama sang Suami Ridwan Hisyam

“Kita doakan bersama Mbak Nunung ini, sebelum potong kue pelangi. Agar Allah SWT memberi kesabaran yang tinggi, panjang umur, tawakal  dan sehat walafiat,” tambah Prof. Sam Abede yang mengenal Hisyam  dan RH masih kecil di lingkungan Masjid Mujahidin Perak, Surabaya.

Dan itulah makna hakiki Nuzulul Qur’an versi RH, kendati kebanyakan kaum Muslimin di bulan Ramadhan ini memburu dan berharap memperoleh Malam Lailatul Qadar sehingga melupakan Nuzulul Qur’an sebagai malam seribu bulan yang paling mulia pada 17 Ramadhan itu, dan mereka umumnya mengabaikan atau sibuk seremonial dalam peringatan turunnya Al-Qur’an. (jbc5/jbc15)

Leave a comment





*