Nikmatnya Buber Bubur Muhdor Khas Arab

\"bubur

Tuban (jurnalberita.com) – Sejumlah lelaki keturunan Arab yang berada di kampung Arab, Jalan Pemuda, kabupaten Tuban, memiliki tradisi unik saat menjelang buka puasa. Mereka menyajikan bubur khas Arab, yang hanya dibuat pada saat bulan Ramadhan sebagai menu buka puasa untuk masyarakat sekitar.

Beberapa hal yang membuat sajian buka puasa ini unik, yaitu dalam pembuatannya tidak ada satu pun terlihat seorang perempuan ikut membantu mengolah bubur ini, semuanya hanya dilakukan oleh orang laki-laki keturunan Arab.

Tradisi pembuatan bubur ini dilakukan di lingkungan masjid Muhdor jalan Pemuda Tuban, sehingga bubur ini juga dinamakan sama dengan masjidnya, yaitu Muhdor. Pembuatannya biasanya dimulai pada pukul dua siang hingga menjelang buka puasa.

Saat ditemui jurnalberita.com, terlihat para laki-laki keturan Arab itu mengaduk bubur yang sedang dimasak di atas kuali yang sangat besar. Sesekali terlihat mereka bergurau, dan dengan sabar mereka bergantian mengaduk bubur tersebut. Minggu (05/08/2012).

Cara pembuatan bubur muhdor ini cukup sederhana, yaitu beras dicampur dengan air kemudian dimasukkan kedalam kuali kuningan besar yang diletakkan diatas tungku. Selanjutnya saat beras mulai melunak dimasukkan rempah-rempah semacam bumbu gulai yang sebelumnya telah dicampur dengan perasan air santan kelapa dan daging.

Sembari diaduk-aduk dan dipanaskan, aroma khas gulai pun tercium sedap. Campuran rempah-rempah dan bumbu itulah yang menjadikan bubur ini mempunyai cita rasa khas timur tengah yang tidak pernah berubah hingga sekarang. Dalam pembuatannya, rata-rata setiap hari mereka menghabiskan 15 butir kelapa dan 30 kilo gram beras.

Konon pembuatan bubur Muhdor ini sudah dimulai sejak tahun 1932 silam, atau sekitar 80 tahun yang lalu. Pada saat itu, bubur ini dibuat untuk masyarakat yang tidak mampu. Namun, setelah lambat laun semua masyarakat ingin menikmati kekhasan bubur tersebut, sehingga masyarakat pun diperbolehkan untuk turut menkmati kelezatan bubur Muhdor itu.

“Tradisi buka bersama dengan bubur Muhdor ini merupakan tradisi yang baik, karena dengan tradisi ini lah kita bisa terus menjalin silaturrohim dan saling berbagai antar sesama. Sehingga kita sebagai generasi penerus wajib untuk mempertahankan tradisi yang baik ini secara turun temurun hingga sekarang,” terang Aqil Al Bunumay, pengurus masjid Muhdor,.

Beberapa warga yang ditemui saat mengantri bubur Muhdor itu,  mengakui rela mengantri karena bubur ini hanya ada saat bulan puasa saja, dan selama ini juga tidak ada yang pernah menemukan adanya pedagang yang menjual bubur Muhdor itu.

“Selain dengan cita rasanya yang khas, bubur Muhdor ini hanya ada disaat bulan puasa seperti ini. Makanya kita rela mengantri,” ujar Muhammad Rochim, warga Kelurahan Kingking, Kecamatan Kota, yang ikut mengantri.

Tradisi buka bersama dengan bubur Muhdor ini sangat diminati masyarakat, karena selain cita rasa yang khas dan hanya bisa dinikmati saat bulan puasa, warga juga merasa nyaman berbuka bersama-sama dengan warga lain. Apalagi saat bubur dibagikan, seperti tidak ada pembedaan status sosial, entah  itu dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas. “Kalau pengen menikmati bubur Muhdor harus sama-sama mengantri dan mendapat jatah yang sama,” ungkap Agil. (jbc18/jbc15).

 

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*