Masyarakat Pesisir Rawan Kemiskinan

Giyanto, saat memberikan keterangan pers. (jbc15)

PACITAN (Jurnalberita.com)- Sebutan miring yang pernah disandang para guru sebagai profesi yang marginal, kini terkikis sudah seiring turunnya kebijakan soal tunjangan profesi (TP). Namun dilain sisi, predikat yang pernah melekat pada diri seorang Umar Bakri tersebut berpindah alamat ke kelompok nelayan. Masyarakat yang menekuni profesi sebagai pencari ikan dilaut ini, masih saja tersisihkan. Kehidupan mereka belumlah sejahtara. Menurut Sugeng Utomo, Ketua LSM LPPM3 Mitra Bahari Kabupaten, Pacitan, ada beberapa hal kenapa kehidupan para nelayan di Pacitan masih jauh dari layak dan rawan kemiskinan. Yang pertama lebih dipengaruhi kondisi alam yang relatif kurang stabil. Selain itu, lanjut dia, kondisi pasar yang masih belum berpihak pada nelayan. “Nelayan cenderung berjalan sendiri tanpa dukungan pasar yang berpihak. Pasar hanya mengedepankan pada wilayah hukum ekonomi,” jelas pegiat LSM berkumis tebal ini, Selasa (9/10).

Dari faktor alam, imbuh Sugeng, fenomena global warming yang disebabkan ulah kerakusan manusia belum bisa menjamin terjadinya  migrasi palagis ikan secara besar-besaran. Pun terjadinya over fishing dengan menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan menjadi penyebab ikan semakin jauh, tangkapan menurun, dan ikan semakin mengecil. “Situasi ini perlu disikapi dengan paradigma perubahan mainstream yang super ekstrim serta aplikasi yang ekstrim juga. Kalau tidak, masyarakat pesisir (nelayan) akan tetap sebagai kelompok yang marginal dan rawan kemiskinan,” tuturnya pada awak media.

Sementara itu Giyatno, Ketua Kelompok Bersama (Kube) Sido Rukun I, Desa Watukarung, Kecamatan Pringkuku menambahkan, saat ini harga ikan cenderung turun. Hal tersebut lebih disebabkan ulah spekulan para pedagang. Selain itu sarpras yang memang belum menguntungkan semakin memperburuk situasi. “Nelayan di Watukarung belum bisa menjual ikan dengan sistem lelang. Jadi saat ini harga hanya nurut keinginan pedagang. Ini yang membuat nelayan sulit berkembang,” katanya secara terpisah.

Lebih lanjut, Giyat begitu ia biasa disapa menerangkan, hasil tangkapan ikan dalam beberapa bulan terakhir ini cenderung menurun. Saat bulan September lalu, total tangkapan ikan nelayan hanya sekitar 13 ton dengan nominal rupiah sekitar Rp. 75 juta. “Kita sangat berharap pemerintah bisa memperhatikan nasib nelayan disini (Pantai Watukarung, Red). Setidaknya, bisa melaksanakan lelang seperti di Pelabuhan Tamperan Pacitan,” harapnya. (jbc15)

Tags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site