DKP Pacitan, Antisipasi Kerusakan Potensi Sumber Daya Perikanan

Terkait masih banyaknya nelayan yang melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan zat kimiawi beracun dan kompresor.

DKP Pacitan antisipasi penangkapan ikan dengan zat beracun (istimewa).

DKP Pacitan antisipasi penangkapan ikan dengan zat beracun (istimewa).

PACITAN (jurnalberita.com)- Potensi sumber daya perikanan di Kabupaten Pacitan, bisa jadi terancam punah. Itu akibat ulah sekelompok nelayan luar daerah yang kerap kali melakukan aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan peralatan semacam kompresor ataupun bahan kimiawi beracun. Kabid Kelautan, Dinas Kelautan Dan Perikanan, setempat, Bambang Mahendra mengatakan, selain beresiko merusak habitat laut, aktivitas penangkapan ikan semacam itu juga melanggar aturan. Bambang lantas menyebut UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. “Sumber daya perikanan akan rusak, seandainya aktivitas seperti itu secara kontinyu terus dilakukan tanpa ada upaya pencegahan,” ujarnya, Jumat (5/4).

Bambang mengakui, bila selama ini masih saja terjadi eksploitasi sumber daya perikanan dengan cara-cara menyimpang. Hal tersebut jamak dilakukan sejumlah nelayan luar daerah secara sembunyi-sembunyi.  Budaya buruk seperti itu, dikhawatirkan akan diadopsi nelayan lokal. Selain mengancam kelestarian habitat laut, aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan racun bisa memicu terjadinya konflik horizontal diantara para nelayan. “Kesadaran nelayan local terhadap kelestarian sumber daya ikan, sudah mulai terbangun. Mereka sudah mulai berpikir, masa depan anak cucu. Kalau potensi itu punah karena ulah sekelompok nelayan luar daerah, tentu saja mereka akan melakukan perlawanan. Kondisi seperti inilah perlu antisipasi dini agar tidak memunculkan konflik,” papar pejabat Eselon IIIa ini.

Bambang menyebut, potensi udang lopster di Pacitan memang terbilang sangat tinggi. Kondisi inilah yang menstimulus sekelompok nelayan luar untuk “mencurinya” dengan cara-cara melanggar aturan. Misalnya saja seperti diwilayah Kecamatan Sudimoro, Ngadirojo, Tulakan, Pringkuku dan Donorojo. Di beberapa lokasi perairan tersebut, memang kerap kali terjadi aktivitas penangkapan udang lopster dengan peralatan yang dilarang seperti kopresor misalnya. Sekalipun begitu, Bambang menegaskan, agar nelayan local tidak gegabah menyikapinya. Mereka perlu diberikan peringatan dan pemahaman bahwa tindakan tersebut selain bisa merusak habitat laut, juga tidak dibenarkan secara aturan. “Terkecuali kalau peringatan itu tidak diindahkan, baru dilakukan langkah-langkah repressive agar ada efek jera bagi para pelakunya,” tuturnya.

Sementara itu Edy Winarno, Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas) Desa Watu Karung, Kecamatan Pringkuku menambahkan, aktivitas penangkapan ikan dengan menggunakan zat beracun biasanya jamak dilakukan nelayan dari wilayah Timur atau seputaran Blitar. Akan tetapi, masyarakat sudah melakukan upaya antisipasi dan pencegahan. “Dulu memang ada, namun sekarang ini mereka tidak berani lagi,” ujarnya, saat dikonfirmasi secara terpisah. (jbc15).

Tags: 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*
*


*


Switch to our mobile site