INDOPOS.CO.ID – Kepala Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani bersilaturahmi dengan organisasi Paguyuban Bumi Reyog Ponorogo yang berada di Kota Andan, Korea Selatan (Korsel).
Benny mengapresiasi keberadaan organisasi paguyuban ini, seharusnya pemerintah patut bersyukur, bahkan ia menyarakankan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif datang ke sini.
Ia menerangkan, ada paguyuban yang tanpa inisiatif pemerintah dan tanpa dimodali negara, mereka mengambil inisiatif sendiri untuk menyebarkan budaya Indonesia.
“Sebenarnya menunjungi paguyuban ini tidak masuk dalam agenda di Korea Selatan, tapi saya bersyukur, kadang sesuatu yang di luar rencana justru bagi saya memberi inspirasi dan pengetahuan baru. Kalau tidak sedikit dipaksa ke sini, mana saya tahu bahwa teman-teman Ponorogo begitu partisipatif dalam rangka misi budaya, selain bekerja, dengan peralatan yang dibiayai sendiri. Saya yakin ini sudah sering kali tampil di Korea Selatan ya, ini luar biasa,” ujar Benny, dalam kunjungan kerjanya, Minggu (8/10/2023).
Sesepuh di Paguyuban Bumi Reyog Ponorogo, Purwanto, berterima kasih karena rombongan BP2MI menyempatkan untuk bersilaturahmi dengan paguyubannya.
“Inilah markas Bumi Reyog Ponorogo yang biasanya menjadi tempat ngumpul teman-teman Pekerja Migran Indonesia di hari libur, yang menjadi tempat kangen-kangenan dan tempat menyalurkan hobi. Paguyuban ini ada sejak dilakukannya pengiriman Pekerja Migran Indonesia ke Korea Selatan melalui PJTKI (sekarang P3MI). Karena bertemu dengan teman sekampung yaitu Ponorogo, maka dibentuklah paguyuban ini,” jelas Purwanto.
Dia bercerita, mereka telah memiliki Reyog Ponorogo yang didatangkan pertama kali pada tahun 2012 sebanyak 1 unit, dan bertambah lagi 1 unit pada tahun 2014.
“Pada acara Penutupan Asian Games yang diselenggarakan di Incheon tahun 2014 tim dari Indonesia meninggalkan 1 unit Reyog-nya untuk dibeli oleh kami, sehingga kami memiliki 2 unit Reyog. Dan terakhir kami mengirimkan unit Reyog dibantu oleh tim KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) dengan biaya dari kami. Jadi seluruhnya unit reog itu mandiri biaya dari kami,” ungkap Purwanto.
Dengan reog tersebut, lanjutnya, mereka mengikuti berbagai festival untuk memeriahkan dan memperkenalkan budaya Reyog di Korsel.
“Tetapi kendalanya adalah kami sering mengalami benturan dengan waktu kerja personil, karena mereka adalah pekerja migran. Sehingga seringkali tampil dengan seadanya,” ucapnya.
Purwanto menjelaskan, permasalahan PMI adalah mereka sudah terlalu nyaman hidup dan bekerja di Korsel.
“Jadi mereka takut pulang karena tidak tahu akan bekerja apa di tanah air. Makanya ada yang bahkan sudah 27 tahun di Korea Selatan dan belum kembali ke tanah air,” tuturnya.
Menanggapi hal tersebut, Benny mengatakan kepada para PMI untuk tidak takut kembali ke tanah air, selama mereka disiplin dalam menabung selama bekerja di Korsel untuk menjadi modal di masa depan.
“Menjadi Pekerja Migran Indonesia itu kan bukan untuk selamanya. Makanya saya kaget ada yang sudah 27 tahun di Korea Selatan. Gaji di Korea kan tinggi ya. Seandainya bisa disiplin dalam hal menyisihkan hasil kerja di Korea untuk dijadikan modal usaha apabila suatu saat kembali ke tanah air, dan selama di Korea membawa pengetahuannya untuk dibawa ke negara kita, saya yakin akan banyak yang sukses. Kalau dari catatan kami, yang menjadi tokoh-tokoh inspiratif dari Korea Selatan itu tidak sedikit,” jelasnya.
Benny mengungkapkan, saat mengunjungi Ansan Migrant’s Counseling Support Center, ia mendapat informasi lagi tentang PMI Waryono asal Kabupaten Kendal, yang sukses berusaha di kampung halamannya.
“Waryono memiliki usaha Ansan Mart, Bengkel Ansan, Restoran Ansan, dan bahkan anaknya diberi nama Ansan. Ini sangat inspiring. Sebenarnya orang seperti Waryono itu tidak sedikit, sepanjang teman-teman datang ke Korea tentu bekerja secara resmi, dan bagaimana disiplin menabung dan menyisihkan dari pendapatannya per bulan. Kemudian kita bermimpi kita akan menggunakan uang yang kita tabung itu untuk masa depan,” terang Benny. (ibs)
Quoted From Many Source